Tips Menukik dari Sang Bukik

Sebagai seorang Psikolog Akademisi (ini bener gak ya istilahnya), Budi Setiawan yang lebih beken dengan nama Bukik mestinya sudah lama bisa menulis dan menerbitkan buku. Tapi itu baru dilakukannya setelah ia sukses menggagas dan aktif dalam seabrek kegiatan bertema pendidikan seperti Indonesia Bercerita, Bincang Edukasi, dan Festival Bakat Anak. Dengan demikian, apa yang ditulisnya di buku tak hanya sederet teori yang jauh dari praktek.

Di tulisan ini, aku mau sedikit review buku yang baru saja ditulis oleh om Bukik dan baru saja dikirim sampai di rumahku dengan sehat wal afiat.. 🙂 Sebagai seorang pengamat visual, aku review buku ‘Anak Bukan Kertas Kosong’ dari tampilan visualnya dulu. 🙂
Aksen warna merah untuk judul dan poin-poin penting di beberapa paragraf sudah pas banget. Secara psikologi warna, warna merah memang ditujukan untuk menarik perhatian dan menyerukan untuk segera mengambil tindakan. Ya, segera mengambil tindakan, karena selain memaparkan latar belakang dan konsep pengembangan potensi anak, di bab-bab akhir om Bukik banyak memberikan tips-tips menukik untuk segera dipraktekkan oleh para orang tua.

Lanjut ke halaman-halaman awal dari buku, aku sempet curiga berasa ada yang kurang dari buku ini. Setelah celingak-celinguk kesana kemari, baru nyadar buku ini gak ada daftar isinya! :O
Konon, seorang kutubuku tak pernah mempedulikan berapa banyak bab atawa halaman yang ada dalam sebuah buku yang ia baca. Ia akan membabat habis semua isi buku dari awal hingga akhir buku.
Tapi berhubung aku bukan seorang kutubuku, dan mungkin sebagian besar pembaca juga bukan seorang kutubuku, ketiadaan daftar isi ini cukup merepotkan. Apalagi ada model pembaca yang baca bukunya suka melompat-lompat, membaca bab gak berurutan tapi memilih bab-bab yang menurutnya menarik untuk dibaca lebih dulu.

bukukik2

Masih di halaman-halaman awal, di bagian pengantar dan sambutan-sambutan, lay out judul dengan font warna hitam yang diberi background warna merah tua, alih-alih menarik perhatian, malah membuat judulnya jadi susah terbaca. Perpaduan warna mestinya mempertimbangkan aspek kontras, dimana warna tua akan menonjol bila dipadu dengan warna yang (jauh lebih) muda.
Perpaduan warna yang jauh dari kontras ini juga diterapkan di beberapa tabel yang ada di bab-bab selanjutnya dari buku ini.

bukukik1

Penilaian terakhir dari tampilan visual buku ini adalah susunan lay out judul dan paragraf yang kurang pas (kalo tidak bisa dibilang ngaco ini). Di halaman 217, judul dan kalimat uraian terputus di akhir halaman. Mungkin karena buku ini bukan sebuah buku skripsi yang ketat akan aturan penulisan dan pemutusan kata di akhir halaman, maka lay out seperti itu hanya akan mengganggu bagi orang seperti aku yang kerjaannya riwil aja.. 😀

Oke, sekarang masuk ke review dari isi buku. Secara keseluruhan konsep buku ini keren.
Judul ‘Anak Bukan Kertas Kosong’ ini aja sudah mampu menyedot perhatian. Beberapa orang yang aku tunjukkan buku ini, punya pertanyaan ‘apa sih maksudnya anak bukan kertas kosong?’
Aku jawab, “Ya, makanya dibaca biar tahu maksudnya..” 🙂

‘Anak Bukan Kertas Kosong’ cukup mampu mematahkan pendapat bahwa anak bisa jadi apa saja seperti yang orang tua bentuk/harapkan. Beberapa fenomena yang aku temui juga membenarkan konsep om Bukik ini. Orang tua jaman dulu yang suka melarang sang anak untuk terjun ke dunia seni, karena masa depannya dinilai kurang cerah, dan menyekolahkan anaknya ke jurusan teknik dan ilmu pasti lainnya, tak selalu berhasil membuat sang anak berprofesi di bidang teknik atau ilmu pasti. Sang anak dengan jalannya sendiri akhirnya berprofesi dan berkiprah di bidang seni.

Melengkapi kerennya konsep ‘Anak Bukan Kertas Kosong’, om Bukik juga menyantumkan keterangan ‘panduan eksplorasi di zaman kreatif’.
Zaman kreatif, atau zaman mutakhir seperti sekarang ini semacam sebuah tantangan buat para orang tua. Perkembangan teknologi yang demikian pesat, membuat orang tua harus bisa menyesuaikannya dalam mendidik anak. Anak jaman sekarang sudah demikian akrab dengan gadget dan internet.
Om Bukik menggarisbawahi di halaman 15, “Kehadiran teknologi internet tanpa disertai perubahan praktik belajar, justru melahirkan praktik negatif..”
Praktik belajar harus senantiasa diinovasi terus menerus, menyeimbangkan dengan perkembangan zaman. Praktik belajar 20 atau 30 tahun yang lalu tidak bisa diterapkan pada masa sekarang.

 

 

119 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *