Jokowi Tak Seperti Dilan #28HariNgeblog

“Saya kangen sebetulnya didemo..”
Jokowi mengungkapkan ke-kangenan-nya, ke-rinduan-nya pada para hadirin dalam sebuah seminar.

Sosok Dilan yang masyhur saat ini juga terkenal dengan ungkapan rindunya,

“..dan jangan rindu”
“Kenapa?” kutanya.
“Berat,” jawab Dilan. “Kau gak akan kuat. Biar aku saja.”

Beda Dilan, beda Jokowi dalam menyikapi rindu (kangen). Jokowi yang rindu didemo, setelah jadi presiden tiga tahun lamanya, tak pernah satu kali pun menemui peserta #AksiKamisan yang rutin setiap hari Kamis-nya berdemo di depan istana, menuntut penuntasan kasus HAM. Belum lama ini, ketika Jokowi didemo oleh para nelayan mengenai perangkat penangkap ikan (cantrang), ia mewakilkannya pada Menterinya, Susi Pudjiastuti.

Alih-alih mempersilakan masuk (ke dalam istana) seperti apa yang diungkapkan Jokowi tentang orang-orang yang akan berdemo padanya, bahkan Jokowi baru-baru ini menghalau pendemo dengan pengamanan Paspampres. Zaadit Taqwa, si pendemo itu, yang merupakan ketua BEM kampus dimana Jokowi sedang memberikan sambutannya di Balairung UI, menyemprit Jokowi ketika Jokowi mempersilakan peserta bila ada yang bertanya, dan kemudian mengacungkan kartu kuning ke arah Jokowi Setelah ‘insiden’ itu, konon pihak istana membatalkan acara pertemuan dengan para mahasiswa UI yang tergabung dalam BEM UI.

Dalam ungkapan rindu yang dilontarkan Dilan, kita tahu bahwa ia sedang melayangkan rayuan gombal pada Milea. Tapi di situ Dilan cukup tegas untuk menanggung kerinduan yang ada. Walau berat, Dilan menanggungnya dan hadapi sendiri, alih-alih menyerahkannya pada Paspampres.

Di sisi lain, ungkapan rindu Jokowi (untuk didemo), kita percaya saja bukan dalam rangka menggombal pada peserta seminar saat itu, atau bahkan pada seluruh rakyat Indonesia yang menonton video acara seminar itu. Kita percaya saja bahwa Jokowi pada saat itu memang benar-benar kangen untuk didemo. Tapi Jokowi mungkin terlewat seperti apa yang diperingatkan oleh Dilan tentang rindu, bahwa rindu itu berat, pun rindu untuk didemo.

Atau kita terpaksa harus percaya, bahwa Jokowi seperti halnya politisi-politisi yang lain, rela menggunakan narasi apa saja untuk berbicara manis di depan khalayak, termasuk narasi rindu, narasi yang demikian suci dan sakral bagi Dilan dan Milea.

Akhirnya mungkin potongan dialog ini bisa jadi kisah Jokowi, bukan kisah Dilan, pada saat ini

“Rindu (didemo) itu berat, kamu nggak akan kuat..”
lalu?
“..biar Paspampres saja yang nanggung..”

🙂 🙂

690 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.