Korban Buku Refurbished #28HariNgeblog

Fitrah sebagai konsumen, ketika membeli tentu akan memilih produk dengan kualitas bagus dengan harga murah.

Sebelum ada toko online, membeli buku lazim kita lakukan di toko-toko buku langganan dan yang kita kenal. Kadang-kadang kita rela beli di toko buku yang jauh lokasinya karena ada kabar di tempat itu harganya jauh lebih murah. Harga jauh lebih murah bisa jadi karena mungkin ‘toko buku’ itu adalah juga distributor yang rantai distribusinya lebih pendek dari toko buku yang lainnya. Atau bisa jadi buku yang dijual itu adalah buku KW.

Istilah KW ini sebelumnya aku kenal dalam dunia bahan bangunan. Sebutan untuk material bangunan dengan kualitas nomor 2, 3 dan seterusnya dari produk aslinya. Tentu dari segi kualitas, produk KW ini tidak sama dengam produk aslinya. Perbedaannya bisa tipis, bisa cukup jauh. Keterangan angka KW itu menunjukkan jauh dekatnya perbedaan dengan produk aslinya. KW 4 atau 5 berbeda kualitasnya 4 sampai 5 step jauhnya.

Dalam dunia elektronik, fenomena produk KW ini mungkin yang paling ramai. ‘Yang jadi korban’ adalah merek atau tipe produk yang sedang hits dan laris saat itu. Kamera pocket merek Canon misalnya, produknya dibikin tiruannya dengan cukup persis dengan memberi merek baru dengan nama yang sangat mirip, Cannon (dengan double n) atau Kanon (mengganti huruf depannya). Fenomena ini juga disebut sebagai produk elektronik bajakan.

Ponsel iPhone cukup sering ‘menjadi korban’ produk KW ini. Banyak pabrikan ponsel (di CIna terutama) yang berlomba-lomba membuat produk yang sangat mirip dengan iPhone. Dari mulai tampilan fisik sampai tampilan dalam layar, dibikin semirip mungkin dengan iPhone. Yang berbeda merek dan sistem operasi di dalamnya. Untuk ini, ada istilah iPhone rasa Android ๐Ÿ™‚

Tak cuma itu, di dunia elektronik ponsel pintar ini ada fenomena KW lain yang cukup menarik, yaitu fenomena produk refurbished. Produk refurbished ini sementara yang aku tahu, hanya menimpa produk-produk iPhone. Istilah dalam bahasa Indonesianya adalah rekondisi. Ini kalo yang aku lihat, kasusnya mirip dengan produk KW di bahan bangunan. Produknya sama bahkan pabriknya sama, yang berbeda hanya kualitasnya saja. Si produsen sengaja membuat dua produk yang hampir sama dengan kualitas yang berbeda. Dulu pernah membeli keramik KW 2, mereknya sama (kalau tidak salah KIA atau Mulia) tapi kualitasnya berbeda. Apanya yang berbeda? Ukurannya yang tidak begitu presisi. Bila keramik itu dipasang dalam sebuah ruangan, terlihat celah antar keramik yang tidak sama. IPhone original dengan yang refurbished barangnya sama, yang berbeda hanya kualitasnya saja, bedanya bisa cukup dekat bisa cukup jauh. IPhone rekondisi (refurbished) adalah produk bekas pakai yang telah ditarik oleh pihak Apple (karena cacat produksi atau kerusakan), lalu ‘dikondisikan lagi’ menjadi produk iPhone baru oleh pabrikan atau distributor lain.

Konsumen yang hanya berorientasi harga murah tapi kurang jeli dalam masalah kualitas, akan mudah menjadi korban produk-produk KW atau refurbished ini. Diperlukan pengetahuan yang cukup dari konsumen tentang kualitas produk yang akan dibeli. Konsumen yang punya kesempatan melihat langsung, kemudian bisa meneliti secara sekilas kualitas dari produk yang akan dibeli, punya kesempatan yang besar untuk tidak tertipu membeli produk KW. Selain itu jangan hanya terpaku pada harga murah, karena dari segi harga ini sebenarnya bisa menjadi penilaian awal apakah produk tersebut asli atau KW. Harga yang jauh sangat-sangat murah cukup mencurigakan kalau itu adalah produk asli.

Bicara tentang buku KW, mungkin yang paling dekat adalah dengan produk KW elektronik. Korbannya adalah judul-judul buku yang sedang hits dan laris. Sama dengan produk elektronik, buku KW ini nama lain dari buku bajakan. Buku tersebut dibuat tiruannya (dengan cara dicetak ulang dengan kualitas cetak di bawah buku aslinya atau bahkan DIFOTOKOPI).

Buku-buku KW ini, bila kita jeli, bisa kita lihat perbedaannya sewaktu mengamati dengan detil kualitas covernya, kualitas huruf-huruf di halaman dalamnya, lembar demi lembar. Cover biasanya warnanya lebih pucat dengan kertas yang lebih buram atau tipis, sedang halaman dalamnya huruf-hurufnya dicetak tidak rata ketebalannya. Kalau itu buku fotokopi, lebih mudah lagi untuk mendeteksinya.

Masalahnya, buku KW ini juga banyak dijual di toko-toko online, dengan keterangan yang minim, apakah itu buku asli atau KW. Kalau itu buku baru, paling kita mendeteksinya dari harganya yang terpaut jauh dari harga di toko buku. Nah kalau itu buku lama, yang sudah tidak ada lagi di toko buku, karena memang diterbitkan beberapa tahun yang lampau, kita susah membedakan buku KWnya dengan buku asli yang merupakan sisa stok gudang yang dulu tidak habis terjual.

Aku sebut buku-buku lama KW ini sebagai buku refurbished. Buku lama yang direkondisi jadi buku baru. Direkondisi dengan jalan dicetak ulang atau difotokopi. Dan aku sendiri jadi korbannya beberapa waktu kemarin, sewaktu kepingin membaca buku lama, tapi tak sempat punya, dan ketemu setelah mencari-cari di toko online.

Tidak ada keterangan apapun di deskripsi lapaknya, entah ori atau fotokopian, dan aku juga tak sempat nanya di kolom chat dengan pelapak, apakah itu buku ori atau bukan, karena keburu senang mendapatkan buku lama yang lagi dicari dan ingin segera dibaca.

Beberapa hari setelah transaksi, buku itu pun sampai. Segera setelah membuka bungkusan paketnya, dan melihat dengan jelas penampilan fisik bukunya, aku langsung tepok jidat,

“Blaikk! Ternyata buku refurbished!”

284 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.