Amok dan Lingkar Kekerasan #28HariNgeblog

Trenyuh banget membaca berita meninggalnya seorang guru seni rupa karena dianiaya oleh muridnya sendiri. Ahmad Budi Cahyanto, nama sang mendiang adalah guru honorer di sebuah SMA di kabupaten Sampang, dengan gaji 400 ribu setiap bulannya.

Ini jadi peristiwa kekerasan yang kesekian kalinya dalam dunia pendidikan. Menurut aktifis pendidikan, Najeela Shihab, mendesak untuk segera memutus lingkar kekerasan dalam dunia pendidikan, mengingat kekerasan tak hanya dilakukan oleh pihak murid saja, tapi sesungguhnya semua pihak dalam dunia pendidikan terlibat, secara langsung maupun tidak langsung, dalam pembiaran terjadinya lingkar kekerasan.

Aku melihat, sebagaimana aku ungkapkan sebagai ‘pemantik kegalauan’ di acara #KoalisiJumat (mengenai koalisijumat ini akan aku bahas juga di lain tulisan), banyaknya kasus kekerasan yang terjadi di sekitar kita ini sudah demikian lama terjadi, dan ini erat kaitannya dengan potensi amok dalam diri manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Potensi amok ini entah kapan mulainya, tapi cukup membuat kita tercengang atau kaget, mengapa bisa seorang manusia melakukan sebuah tindakan kekerasan/pelanggaran lainnya di luar kewajaran?

Sebenarnya kalau dilihat dari kaca mata agama, potensi kekerasan atau pelanggaran ini konsekuensi psikologis sebagai manusia, yang diberikan ilham/potensi kebaikan (unsur malaikat) dan ilham/potensi keburukan (unsur setan/iblis) dalam dirinya. Seberapa jauh kedua potensi itu dikembangkan sedemikian rupa, tergantung keputusan diri manusia tersebut lebih mengikuti ilham/potensi yang mana dan mengarahkannya sesuai dengan orientasi hidupnya.

Selama ini, dengan pengetahuan tentang potensi kebaikan dan keburukan dalam diri manusia, kita mengira bahwa apabila manusia melakukan kebaikan maka ia akan melakukannya dengan kegiatan kebaikan yang standar biasa saja. Demikian sebaliknya dengan aktifitas keburukan yang dilakukannya. Misal, ketika manusia membunuh, cukup dengan menembak musuhnya dengan satu dua tembakan atau menusuknya dengan sebilah pisau atau senjata tajam lainnya. Maka ketika ada orang yang melakukan pembunuhan dengan aksi mutilasi (memotong-motong jasad orang yang dibunuhnya menjadi beberapa bagian) kita tercengang dan kaget luar biasa.

Pertanyaan besar yang muncul, apa tak cukup bagi si pembunuh melakukan kejahatannya hanya sebatas menghilangkan nyawa musuhnya? Bahkan ada yang lebih lagi dari itu, memakan potongan-potongan tubuh itu layaknya memakan daging sapi atau kambing!

Secara sosial, kekerasan dan kejahatan yang dilakukan secara sosial (berkelompok dan beramai-ramai) kita lihat terjadi secara fenomenal pada saat kerusuhan 1998. Orang-orang yang kita lihat sebelumnya demikian bersahaja dan ramah, tiba-tiba berubah menjadi manusia buas yang membakar dan mejarah habis bangunan dan harta benda yang bukan miliknya. Suasana demikian mencekam. Perubahan suasana terjadi demikian cepat dan tidak terkendali.

Sebenarnya sewaktu kita lihat ke belakang lagi, beberapa waktu sebelum kerusuhan 1998, telah terjadi ‘aksi kejahatan sosial’, walau dalam skala yang cukup kecil, yang relatif cukup sering terjadi, seperti aksi pembakaran copet yang tertangkap di pusat-pusat keramaian seperti di stasiun kereta atau terminal bis.

Para sosiolog menyebutnya ini sebagai amok (potensi amok). Aku melihat, karena ini adalah potensi (berdampingan dengan potensi kebaikan -dilihat dari kaca mata agama), amok ada dalam setiap diri manusia. Secara sosial potensi amok ini ada di setiap kelompok dan lapisan masyarakat. Bagaimana potensi ini bisa tumbuh dan secara mengagetkan meledak, tergantung banyak hal. Salah satunya adalah provokasi yang terus didengungkan yang akhirnya memancing reaksi berupa sentimen ketidaksukaan dan akhirnya melahirkan kebencian.

Potensi amok ini menurutku bisa diredam (tapi tak bisa dihilangkan sama sekali) di antaranya dengan meningkatkan terus kesadaran bermasyarakat dan bersosial, yang menuntut saling pengertian dan saling menghormati-menghargai antar elemen kelompok sosial yang hidup dalam satu lingkungan (dari lingkungan yang paling kecil hingga skala yang paling luas, yaitu bernegara).

Kesadaran bisa dipupuk salah satunya dengan upaya paling dini lewat sarana pendidikan. Sayangnya di dunia pendidikan, potensi amok ini juga tumbuh dan berkembang, di antaranya potret amok seorang murid yang marah luar biasa ditegur oleh gurunya karena tertidur di kelas. Ahmad Budi Cahyanto, sang guru, mesti meninggal di tangan muridnya sendiri, setelah dihajar dan dianiaya sedemikian, hingga menyebabkan batang otaknya retak, oleh muridnya sendiri.

Lingkar kekerasan, kata Najeela Shihab, telah terjadi di tempat dimana kita harapkan potensi amok itu diredam dan ditumbuhkan kesadaran untuk menghargai sesama manusia.

*gambar dicomot secara sembarang dari hasil googling

271 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.