Kejar Tayang Nyawa Melayang #28HariNgeblog

Pekerjaan konstruksi, entah itu skala kecil (membangun rumah) ataupun skala besar (membangun gedung tinggi dan konstruksi jalan raya-jembatan) punya masalah yang pelik dengan tenggat waktu. Bila tidak diatur dalam sebuah manajemen konstruksi yang tepat, akan menyebabkan waktu pengerjaan mengalami delay yang sangat parah, yang ujungnya akan berakibat pada kerugian biaya dan waktu. Kedua belah pihak, baik klien (pemilik bangunan/konstruksi) maupun yang mengerjakan konstruksi (kontraktor, konsultan pengawas dan yang lainnya) sama-sama menanggung kerugiannya.

Umumnya, proyek pada awalnya berjalan dengan sangat santai. Kontraktor mempunyai schedule kerja tapi tak menerapkannya dengan baik. Pihak klien apalagi, ia mempercayakan sepenuhnya pada kontraktor yang telah ia percayai. Sampai pada suatu waktu, baik pihak kontraktor dan klien tersadar bahwa deadline bangunan harus selesai dan dapat digunakan tinggal beberapa waktu lagi (bisa kurang dari 2-3 bulan lagi, atau bahkan dalam hitungan minggu).

Apa yang dilakukan selanjutnya?
Kejar tayang alias ngebut.

Sebagaimana berkendara dalam kecepatan tinggi, unsur kehati-hatian banyak diabaikan sewaktu kejar tayang mengejar deadline proyek. Ada beberapa item pekerjaan yang memang bisa dikejar dengan sistem kerja lembur, ada juga yang bisa dikerjakan secara split satu item pekerjaan dengan item pekerjaan lain.

Apakah waktu pengerjaan item pekerjaan standar bisa dipercepat?
Aku jawab bisa, tapi dengan resiko banyak hilangnya kualitas pekerjaan. Misal dalam item pekerjaan pasang bata untuk tembok/dinding. Rata-rata seorang tukang dalam 1 hari kerja mampu selesaikan dinding batab seluas 7-8 m2. Apabila dilembur, ia dapat menyelesaikan sebanyak 14 m2.
Bisakah dipercepat dalam satu hari dengan lembur, tukang dapat menyelesaikan seluas 20-25 m2? Bisa. Tapi dengan resiko penurunan kualitas dari dinding yang dipasang itu. Volume 7 m2 yang didapatkan dari 1 hari kerja tanpa lembur itu dari kerja dengan prosedur standar pemasangan bata dinding seperti leveling menggunakan waterpass, pasang benang untuk patokan level pemasangan bata, kemudian ganti leveling benang setiap berapa baris bata yang terpasang, membuat adukan dengan campuran adukan standar, dan seterusnya. Pemasangan bisa dipercepat dan mendapatkan luasan pemasangan bata yang lebih banyak, dengan mengabaikan beberapa prosedur standar tadi. Apa akibatnya? pemasangan tembok menjadi tidak rata karena tukang tak memasang tools leveling sebagaimana biasanya (menyiapkan leveling cukup memakan waktu dalam prakteknya), tembok di beberapa bagian retak karena adukan dibuat tidak sesuai dengan syarat adukan standar (adukan standar didapatkan dari perbandingan campuran antar elemen adukan seperti semen, pasir dan air, yang butuh waktu mengaduk yang telaten agar mencapai kualitas adukan yang standar, yang ini juga memakan waktu). Dan banyak akibat lainnya, karena beberapa prosedur diabaikan, demi  mencapai target pekerjaan dengan volume sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat.

Semua item pekerjaan dalam pekerjaan proyek bisa dipercepat, dikebut untuk prosesi kejar tayang, tapi dengan konsekuensi penurunan kualitas yang bisa jadi cukup banyak, dan dengan mengabaikan beberapa prosedur standar yang memang makan waktu.

Di pekerjaan struktur jalan raya, aku ambil contoh kasus jalan layang Grogol yang roboh di bulan Maret 1996. Jalan layang Grogol waktu itu menggunakan struktur beton yang dicor dan dirangkai secara konvensional (tidak menggunakan sistem post-tension seperti jalan layang yang umum dibangun pada saat sekarang). Struktur beton didapatkan dari proses (prosedur) pengecoran seperti pembuatan struktur perancah untuk penahan cetakan beton bodi jalan, hingga pengecoran, kemudian waktu tunggu masa kering beton dan akhirnya pembongkaran struktur perancah penahan pengecoran jalan.

Karena kejar tayang, prosedur waktu tunggu masa kering beton diabaikan di proyek jalan layang Grogol ini. Waktu tunggu masa kering beton standarnya adalah 21-28 hari. Kurang dari masa kering ini, beton tak berfungsi apa-apa, apalagi sebagai pemukul beban struktur jalan yang akan dilewati oleh ribuan kendaraan nantinya. Kurang dari masa kering, jangankan memikul beban dari luar, memikul beban dirinya sendiri pun tak dapat dijalankan dengan baik.

Sang Deputy Manager sekaligus Manajer Konstruksi proyek jalan layang Grogol itu, seorang warga negara Korea, mengeluarkan instruksi untuk membongkar struktur perancah penahan cor beton jalan, yang masih berusia 4 hari saja masa kering betonnya!
Yang terjadi selanjutnya seperti yang kita lihat dalam berita yang sangat ramai pada waktu itu, jalan layang Grogol roboh jatuh ke bawah, patah mejadi dua, menimpa beberapa pekerja yang sedang bekerja di area bawah jalan layang.

Ada korban jiwa yang nyawanya melayang akibat keteledoran ini. Proyek kejar tayang, berbuah nyawa melayang.

Di saat sekarang banyak terdengar terjadi insiden dalam pekerjaan insfrastruktur yang sedang giat-giatnya dibangun, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, aku curiga sistem kejar tayang sedang berlangsung di situ, karena berbagai alasan untuk mengerjakannya buru-buru (buru-buru untuk terlihat cepat selesai ataupun buru-buru untuk segera diresmikan),

wallahu a’lam

*gambar diambil dari channel Youtube John Gardner dan store.tempo.com

446 total views, 2 views today

About the author

sketsagram

View all posts

2 Comments

  • Menurutku dari awal aja udah salah kaprah dengan diabaikan faktor amdal. Ditambah system kebut kejar tayang.. ya bubrah kabeh. Ngeri ini efeknya. Keknya even bukan ke jangka menengah bahkan ke jangka waktu deket. Moga2 tidak ada korban sia sia lagi dan kita semua akan dilindungi Allah SWT. Sang Maha Pencipta. Aamiin YRA.

    • Iya, Amdal itu proses awal pra pembangunan. Kalo di awal sudah melanggar, gak bisa berharap banyak di prosedur-prosedur selanjutnya bakal tertib..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *