Menggalau di #KoalisiJumat (1) #28HariNgeblog

“Media sosial berasa gak asyik lagi sejak politisi dan unsur politik masuk guna mewujudkan kepentingannya..”

Demikianlah salah satu poin yang disampaikan oleh @insideerick sebagai pemantik kegalauan (narsum) di acara Ngopi Saban Jumat, 26 Januari 2018, di Studio Kopi Sang Akar, Tebet. Temanya: Media Sosial Makin Jancuk Tanggung Jawab Siapa?

Unsur politik masuk, tapi warganet menanggapinya berbeda dengan para politisi dalam memandangnya. Para politisi menganggap politik bersifat abu-abu, sesaat dan mudah berubah sesuai dengan kepentingan mereka berkaitan dengan kekuasaan yang akan mereka raih atau pertahankan. Sedangkan warganet memandang politik di media sosial bersifat hitam-putih, sangat ideologis dan kaku.

Antar kandidat ajang pilkada misalnya, yang kalah ataupun yang menang, sudah berinteraksi kembali secara akrab dan penuh tawa setelah ‘bertarung’ dalam perang program dan janji kampanye selama masa kampanye sebelumnya, tapi tidak demikian dengan para pendukung mereka masing-masing di media sosial. Para pendukung politisi ini masih saja saling caci maki dan menyebarkan hoax untuk terus menjatuhkan politisi yang jadi rival politisi yang mereka dukung di ajang pilkada yang sudah selesai.

Aku yang juga jadi pemantik kegalauan di acara Ngopi Saban Jumat dengan tagar #KoalisiJumat ini cukup setuju dengan pandangan @insideerick, dengan banyak catatan tambahan 😊

Unsur politik tidak hanya di akhir-akhir ini saja masuk ke internet dan media sosial (2014 ke atas) tapi jauh sebelum itu, parpol maupun para politisi sudah memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sarana komunikasi mereka. Tahun 2009 sewaktu terjadi pilpres dunia media sosial sudah marak dimanfaatkan sebagai ajang kampanye. Beberapa forum online juga ramai membahas dan mengkritik masing-masing kandidat yang ada. Tapi suasana masih cukup kondusif.

Warganet terbelah dalam polarisasi skala besar mulai terasa di tahun 2014. Terbagi menjadi dua kubu, pendukung Jokowi vs pendukung Prabowo. Masing-masing kubu saling serang dengan melempar kritik, negative campaign (rekam jejak negatif), black campaign dan juga fitnah. Tidak itu saja, pertemanan yang selama ini sudah terjadi di antara warganet (karena dulu sekolah yang sama, atau pernah bekerja di kantor yang sama) harus retak bahkan rusak sebagai efek dari polarisasi yang tajam antara dua kubu ini.

Tahun 2009 fitnah dan black campaign bukannya tidak ada, cukup ramai juga saat itu, salah satunya menyerang cawapres Budiono. Tapi fitnah dan black campaign baru terasa demikian masif dan menciptakan suasana lingkaran setan saling serang dan hantam di antara sesama warganet, baru di gelaran pilpres 2014. Kalo menurut Damar Juniarto, ini ada kaitannya dengan jumlah pengguna media sosial yang meningkat drastis dari tahun 2009 ke tahun 2014, dan terus meningkat hingga sekarang. Media sosial penuh sesak dengan warganet, dan meningkatkan resiko saling bersinggungan satu sama lain, terutama mereka yang berbeda pendapat dan pilihan politik.

Aku melihat semua kericuhan di media sosial ini, terutama yang berkaitan dengan peristiwa politik, tak lepas dari realitas dan permasalahan sosial yang juga terjadi di masyarakat sehari-hari di kehidupan nyata (offline). Dulu, sebelum kita kenal teknologi internet dan media sosial, event politik seperti pemilu juga rawan konflik dan kerusuhan sosial. Pun di jaman Orde Baru dimana stablitas dan keamanan nasional menjadi prioritas utama. Parpol A yang sedang berkampanye, mengolok-olok pendukung partai B yang sedang tidak mendapat giliran kampanye. Begitu juga sebaliknya. Lalu timbullah konflik, dikarenakan masing-masing kelompok sosial di masyarakat itu tidak bisa saling menghargai satu sama lain.

Sekarang eranya berubah, kelompok sosial dan perilaku sosial dari kelompok-kelompok itu masih sama, hanya lingkungan dan medianya saja yang berubah, jadi lingkungan baru bernama media sosial. Hanya lingkungannya saja yang berubah, orang-orangnya masih sama (tidak kemudian jadi cyborg, atau manusia dengan artificial intelligence).

Sebelum era internet dan media sosial, perilaku sosial masyarakat yang menimbulkan konflik dengan daya rusak tinggi juga cukup sering terjadi, pembakaran copet yang dihakimi massa, kerusuhan Ambon, Poso dan kerusuhan Mei 1998. Semuanya itu membuat kita tercengang, kenapa elemen-elemen sosial masyarakat yang kita lihat sehari-hari begitu ramah dan bersahaja bisa demikian ganas dan beringas, sewaktu konflik dan kerusuhan itu terjadi?

Sama tercengangnya sekarang, mengapa warganet bisa demikian ganas dan beringasnya menyerang kelompok lain di media sosial yang berseberangan pilihan politiknya, bahkan kita pun kadang geleng-geleng kepala melihat teman sendiri memasang status demikian kasar demi menyerang mereka yang berseberangan pilihan politik, padahal sehari-hari kita kenal ia orang yang pendiam dan santun.

Fenomena apa yang sebenarnya terjadi?

*bersambung

196 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.