Menggalau di #KoalisiJumat (2) #28HariNgeblog

“..kita memang sadar di balik keramahtamahan masyarakat Indonesia, terpendam benih-benih kemarahan yang bisa meledak kapan saja.”

Rahadian Rundjan menyimpulkan itu di akhir tulisannya di Geotimes tentang ‘Jejak Amok Masyarakat Kita’. Relevan sekali dengan bagian akhir yang aku bahas di tulisan sebelumnya. Sebelum dan setelah adanya internet dan media sosial, kondisi sosial masyarakat kita menyimpan benih-benih konflik yang bisa meledak kapan saja. Secara personal, potensi amok ini bisa meledak dalam perilaku-perilaku sadis yang dilakukan oleh individu yang sehari-hari kelihatan normal dan ramah. Di tulisan ‘Amok dan Lingkar Kekerasan’ aku bahas tentang fenomena seorang murid yang dengan gelap mata menganiaya gurunya hingga mengakibatkan sang guru meninggal dunia. Perilaku murid yang cukup mengagetkan, hanya karena ia ditegur sang guru karena tertidur pada waktu pelajaran sedang berlangsung.

Media sosial, adalah lingkungan yang sangat baru, yang bagi sebagian orang dianggap sebagai lingkungan virtual yang bebas untuk melakukan apa saja di dalamnya, tanpa implikasi apapun, baik secara individual maupun sosial. Di sinilah kita melihat ada orang-orang yang tampil dan bersikap sangat berbeda di media sosial, berbeda 180 derajat dengan kehidupannya sehari-hari di dunia nyata (offline). Kita pun melihat teman kita sendiri yang bisa dengan mudahnya mengumpat dan memaki di setiap postingan statusnya di media sosial, berbeda dengan kesehariannya yang kita kenal ramah dan pendiam.

Karena dirasa bebas melakukan apa saja, baik secara individual maupun berkelompok, warganet pun bebas memaki dan berkata-kata demikian kasar pada tokoh-tokoh publik seperti ulama atau tokoh masyarakat lainnya, bila dirasa tokoh publik itu mempunyai pendapat dan sikap yang berseberangan dengannya. Perilaku demikian berbalas pula dari warganet dari pihak yang berseberangan pendapat dan sikapnya. Begitu seterusnya yang terjadi di media sosial seperti yang terlihat sekarang ini.

Di media sosial, potensi amok warganet ini demikian mudah terpicu, karena:

  • kurangnya kesadaran akan ‘lingkungan baru’, dan
  • terpancing oleh banyak provokasi yang berseliweran (baik yang bersifat spontan maupun terorganisir).

Kurangnya kesadaran karena menganggap media sosial adalah lingkungan virtual yang bebas untuk melakukan apa saja, tanpa implikasi sosial apapun, padahal di media sosial warganet sedang berinteraksi dengan warganet lainnya, yang bahkan tidak hanya di lingkup satu negara saja, bahkan seluruh dunia. Bermedia sosial juga butuh literasi, agar tahu bagaimana seharusnya bersikap dan berinteraksi di dalamnya.

Di sisi lain, sikap seenaknya sendiri dari seorang warganet di media sosial ini secara tidak langsung melahirkan provokasi bagi pihak lain. Karena tahu tokoh ulama/masyarakat panutannya dicaci maki atau dilecehkan sedemikian rupa, tentu hal ini akan memancing amarahnya (terprovokasi). Inilah awal mula terjadinya konflik.

Kemudian ada lagi, provokasi yang memang terorganisir, lahir dari strategi Marcomm di media sosial, seperti apa yang dilakukan komplotan Saracen dan sejenisnya yang beberapa waktu lalu terungkap oleh pihak kepolisian.

Kealpaan literasi, berbaur dengan provokasi insidental dan terorganisir, membuat suasana lingkungan media sosial demikian hiruk pikuk, dan akhirnya memanas, tidak kondusif, dan membuat tidak nyaman. Media sosial mendidih dengan semakin mudahnya benih-benih amok warganet terpicu dan terpancing, sehingga melahirkan konflik horizontal di media sosial, dalam bentuk polarisasi akut yang mengarah pada perpecahan.

Kondisi ini sebenarnya serupa dengan kondisi sosial masyarakat sehari-hari ketika terjadi konflik horizontal. Suasana demikian panas dan mencekam. Hoax dan fitnah pun demikian mudah tersebar dan ditelan mentah-mentah, karena masing-masing pihak hanya mau menerima informasi dan paparan dari sumber informasi yang dirasa sepaham dan sealiran oleh mereka.

Lalu apa yang semestinya dilakukan?

*bersambung

81 total views, 0 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *