Menggalau di #KoalisiJumat (3) #28HariNgeblog

Konflik sosial di media sosial maupun di kehidupan sehari-hari mempunyai kemiripan, dari isu yang diusung, pelaku konflik dan akar penyebabnya. Yang berbeda adalah lingkungan tempat konflik itu berada, satu di lingkungan virtual dan satu lagi di dalam kehidupan sehari-hari. Tapi konflik yang kadung tersulut di media sosial tak bisa dilepaskan dari efeknya di dalam kehidupan sehari-hari, mengingat manusia tak bisa melepaskan diri dari kehidupan nyata sehari-harinya.

Indonesia telah banyak sekali mengalami konflik sosial dalam kehidupan nyata sehari-hari, jauh sebelum internet dan media sosial ramai digunakan seperti sekarang ini. Konflik Ambon, Poso, maupun kerusuhan Mei 1998, adalah beberapa contoh konflik sosial dengan daya rusak yang tinggi yang mengancam persaudaraan di antara sesama anak bangsa di tanah air. Yang bisa terlihat dari kerusuhan-kerusuhan itu adalah provokasi (yang awalnya insidental lalu diikuti oleh provokasi terorganisir), dan keterbatasan literasi massa dalam membaca situasi sosial yang ada. Kondisi ini di satu sisi merupakan kelemahan dari kondisi sosial masyarakat sekaligus juga menjadi nilai positif dalam hal penanganan konflik pada ujungnya.

Masyarakat Indonesia pada umumnya adalah paternalistik, mudah mengikuti siapa saja yang dipandang menjadi panutan dalam kehidupan sosialnya. Panutan ini kemudian berperan sebagai simpul sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Simpul sosial yang sama juga terjadi di media sosial, dengan bentuk yang berbeda tapi dengan peran yang kurang lebih sama. Dalam konflik sosial, simpul sosial inilah yang sering menjadi pemicu dengan provokasi-provokasinya (baik insidentil maupun terorganisir). Selain sebagai pemicu, simpul sosial ini juga berperan dalam nanti menyelesaikan konflik, yaitu dengan mempertemukan simpul-simpul sosial yang ada, mengajak mereka berdamai, dan memberikan pengertian akan arti pentingnya saling menghargai di antara kelompok-kelompok yang ada dalam rangka menjaga keutuhan kesatuan bangsa.

Kalo dalam kehidupan sehari-hari, simpul sosial ini bisa dalam sosok tokoh masyarakat yang dihormati, tokoh politisi yang mempunyai pendukung dan simpatisan setia, atau tokoh agama yang begitu dihormati dan mempunyai pengikut yang fanatik. Bisa juga bentuk dalam sosok tokoh pemuda yang aktif mengorganisir institusi pergerakannya. Di media sosial, simpul-simpul sosial ini hampir sama dengan kehidupan sehari, dan ditambah beberapa orang yang mewujud dalam bentuk akun media sosial yang mempunyai banyak pengikut (follower) setia dan fanatik, yang kata-kata dan opininya selalu disambut secara gegap gempita oleh para pengikutnya. Yang unik dari simpul sosial di media sosial, simpul sosial ini bisa berupa akun anonim, tidak diketahui identitasnya yang asli. Ia dikenali dari isu-isu atau narasi yang sering dibawa dalam setiap postingan statusnya di media sosial. Maka ia mempunyai pengikut yang fanatik, berdasarkan kesamaan narasi dan isu yang ia usung.

Konflik di media sosial seperti kita saksikan akhir-akhir ini sering dipicu dan diwarnai oleh peran para simpul sosial di dalamnya. Apalagi kondisi masyarakat di media sosial relatif sama dengan kondisi sosial sehari-hari, masih paternalistik, mudah mengikuti simpul sosialnya, sekaligus juga mudah terpicu dan terprovokasi untuk berkonflik dengan anggota kelompok simpul sosial lainnya.

Jusuf Kalla sewaktu menjadi Menko Kesra di masa pemerintahan Megawati, mempunyai langkah-langkah jitu dalam menyelesaikan konflik yang terjadi saat itu (Ambon dan Poso). Ia mempertemukan simpul-simpul sosial pihak-pihak yang sedang bertikai, melakukan mediasi, dan menekankan arti pentingnya sikap saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Aku melihat, langkah-langkah yang sama bisa diterapkan untuk meredam konflik yang terjadi di media sosial akhir-akhir ini. Beberapa inisiatif telah diambil secara mandiri oleh simpul-simpul sosial di media sosial yang sadar akan arti pentingnya kesatuan dan kerukunan, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang dilakukan oleh Ketua GP Ansor (mewakili simpul sosial NU) dan Ketua Kokam (mewakili simpul sosial Muhammadiyah), untuk bertemu dalam satu acara yang digelar bersama dan menyatakan tekad untuk bersatu padu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Sebagai dampak dari inisiatif itu adalah berkurangnya secara drastis konflik sosial yang terjadi antara elemen NU dan Muhammadiyah di media sosial. Dan khasnya masyarakat paternalistik, pengikut-pengikut simpul sosial dari dua organisasi pemuda terbesar itu pun secara beramai-ramai menggaungkan apa yang dilakukan oleh para tokoh panutan organisasi simpul sosial mereka.

Tapi inisiatif yang lebih besar (dari pemimpin negeri ini) lebih mendesak untuk segera diambil. Upaya persatuan dan saling menghargai di antara sesama elemen bangsa, rasanya tidak cukup hanya dengan seruan-seruan formal dalam bentuk pidato dan wacana-wacana di media saja. Semua elemen dan simpul sosial yang ada, yang sering terlibat dalam konflik di media sosial perlu dimediasi dan dipertemukan untuk mewujudkan keakraban dan suasana saling menghargai, dan nantinya bisa bekerja sama dalam mempererat kembali persatuan dan kesatuan bangsa.

Sangat disayangkan bila kemudian yang terjadi adalah beberapa simpul sosial yang terlihat sering memicu konflik di media sosial terlihat dibiarkan begitu saja, bahkan terkesan ‘dipelihara’ untuk seraya menyuarakan narasi politik praktis ‘yang bersangkutan’, wallahu a’lam.

69 total views, 0 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *