Berbagi Pengalaman Diet (1) #28HariNgeblog

Sebelumnya aku menyimpulkan, diet itu gak bisa mandiri, mesti di bawah bimbingan seseorang, dan itu cukup makan biaya alias mahal. Dan aku mengalaminya waktu itu, sekitar tahun 2013-2014.

Berawal dari mencoba timbangan di sebuah bazaar, yang hasil timbangan itu menginfokan hal yang mengagetkan: usia sel/metabolisme-ku jauh lebih tinggi dari usiaku  yang sebenarnya. Kadar lemak juga tinggi.
*Belakangan, aku ketahui timbangan itu adalah timbangan tanita
Petugas stand bazaar tempat aku menimbang tadi memberitahukan kalo aku termasuk dalam kategori kelebihan berat badan. Ia terus membagikan brosur kalo aku nanti berminat ikut program penurunan berat badan.

Selanjutnya aku ikut penurunan berat badan itu. Dan seperti kesimpulanku sebelumnya, program diet itu mahal. Karena kelebihan berat bodi, pola makan dari program diet-ku adalah: pagi makan formula shake, siang makan nasi seperti biasa, malam hari balik lagi makan formula shake. Selama kurang lebih 2 bulan jalani itu, berat badan turun memang, kisaran 2-3 kilo. Tapi pengeluaran-ku tiap bulan naik, buat beli formula shake 😁
Untuk lebih hemat membeli shake, aku mesti ikut program MLM formula shake ini: jadi anggota dan dapet starter kit, kemudian selain aktif membeli, juga aktif menjual shake.

Bulan berikutnya aku gak lanjut ikut program diet ini. Berat bodi kembali naik. Bahkan di akhir tahun 2016, berat bodi naik lagi sampe di angka 70 kg (dari sebelumnya cukup stabil di angka 65-66 kg).

Apa yang aku rasakan ketika kelebihan berat badan?
Berat. Bawaannya begah. Gak leluasa beraktifitas. Beberapa aktifitas yang aku rasakan gak nyaman/kerepotan sewaktu kelebihan berat badan:

  • duduk tahiyat akhir pas sholat
  • pasang sepatu atau kaos kaki
  • gunting kuku kaki

Beberapa gangguan kesehatan seperti kesemutan di kaki pada waktu duduk lama pas sholat jumat mulai aku rasakan, juga rutin minum obat sakit kepala, paling nggak sebulan sekali, karena suka merasa tiba-tiba sangat pusing sewaktu habis beraktifitas berat atau habis dari naik sepeda motor perjalanan jauh.

Satu waktu di pertengahan tahun 2016, aku coba cek kesehatan, hasilnya kolesterol tinggi dan ada asam urat. Wah, ini lampu kuning nih. Yang kepikiran waktu itu, aku harus ngurangin makan makanan kayak gorengan atau lemak-lemak kayak jeroan, babat atau sate kambing.

Sebenarnya waktu itu sudah rutin menjalani puasa Senin-Kamis. Tapi  pola makan setelah dan di luar puasa, masih sama dan gak terkontrol. Belakangan, aku sadar betul kalo diet atau program penurunan berat badan kuncinya ada di pola makan. Makan tidak bisa sesukanya, tapi mengikuti pola dan jam-jam tertentu. Apalagi bagi yang sudah menginjak usia 30 tahun ke atas, metabolisme tubuh kondisinya gak seperti di usia-usia sebelumnya, mulai mengalami penurunan dan melambat. Bisa jadi dulu makannya banyak dan sembarangan, tapi tidak menggemuk dan mengalami kelebihan berat badan, tapi begitu masuk usia 30an, makan porsi sedikit saja udah merasa begah dan sesak perutnya.

Akhir tahun 2016, menjelang tahun baru 2017, dalam kondisi sudah gak menjalani lagi puasa Senin-Kamis, aku pulkam. Di kampung inilah terjadi lonjakan berat badanku sampe 70 kg. Di sana, kalap melahap semua kuliner khas kampungku, Kudus. Mulai dari lentog, soto kerbau, pindang kerbau, tahu campur, dan yang lainnya. Gak cukup hanya dengan 1 porsi alias hampir selalu nambah 😊
Badan berasa makin berat, dan repotnya waktu ke kampung ini aku bawa kendaraan sendiri, kebagian nyetir. Nyetir dalam kondisi berat badan over konsekuensinya adalah selain gak nyaman,juga sering ngantuk. Walhasil, kendaraan sering berhenti lama di rest area, untuk numpang tidur sejenak. Aku gak berani ambil resiko maksain nyetir dalam kondisi mengantuk.

Tahun 2017, aku memantapkan diri untuk pasang resolusi berat badan harus turun! Cara yang kepikiran pertama adalah mengintensifkan lagi puasa Senin-Kamis, sambil nyari literatur sebanyak-banyaknya tentang program diet dan pola hidup sehat. Buku yang pertama kali aku beli berkaitan dengan ini judulnya adalah ‘Usia 40 Tahun Tidak Perlu Makan’ tulisan Yuumi Ishihara, seorang dokter di kota Tokyo. Beli buku ini, selain karena judulnya provokatif, juga isinya yang banyak menguraikan manfaat ‘puasa’ yang juga cocok dengan ajaran Islam.

*bersambung

1,736 total views, 3 views today

About the author

sketsagram

View all posts

2 Comments

Leave a Reply to Rani S Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.