Lebih Nendang dengan Wedang #28HariNgeblog

Sejak tahu tentang mudharat minuman manis (dengan pemanis buatan atau gula putih), baik itu yang berupa minuman kaleng, botol, bentuk sachet, atau kita buat sendiri dengan menyeduhnya, aku lebih sering dan selalu minum air putih dalam setiap kesempatan. Kurang lebih udah 2 tahun aku terapkan kebiasaan ini. Minuman-minuman kaleng atau botol dengan aneka rasa, dari mulai rasa teh, aroma buah-buahan, maupun yang tawar seperti minuman pengganti ion tubuh, sudah lama tidak aku konsumsi.

Apa aku terdeteksi punya kadar gula yang tinggi?
Nggak juga. Cuma menurutku, upaya pencegahan lebih baik ketimbang nanti sudah kejadian aku divonis punya gula tinggi, dan mesti menjalani perawatan intensif. Kondisi fisik saat itu tentu berbeda dengan kondisi tubuh biasa yang tidak terjangkit penyakit gula. Apalagi di keluarga, ada riwayat penderita sakit diabetes. Almarhum Bapak berpulang karena penyakit ini. Beberapa teman dan saudara, terjangkit penyakit diabetes ini dalam usia yang cukup muda, masih 30 tahunan awal. Ada yang akhirnya berpulang, karena sudah cukup parah. Beberapa lainnya tidak bisa sembuh total. Tapi dengan kondisi fisik yang tidak se-fit sebelumnya. Tidak mampu bekerja berat, sehingga terpaksa berhenti bekerja dari kantornya.

Sebenarnya kebutuhan gula dalam tubuh sudah dicover oleh makanan sehari-hari yang kita makan. Dan itu merupakan gula alami. Beberapa buah-buahan yang memang rasanya manis adalah gula alami terbaik untuk tubuh. Sementara bahan makanan seperti nasi ketika sudah diproses di lambung juga akan menjadi glukosa (gula bagi tubuh) dan menjadi sumber energi.

Dalam food combining yang selama ini aku jalani juga dianjurkan untuk tidak mengonsumsi minuman dengan pemanis buatan ataupun gula putih. Kalaupun terpaksa menggunakan gula dalam minuman, lebih baik menggunakan gula aren (gula merah).

Jadi kalo minum teh atau kopi, aku sudah tidak menggunakan gula putih lagi. Kalo minum kopi dengan tingkat pahit yang ekstrim seperti espresso, aku baru memakai gula merah, cukup satu sachet saja. Dan konon memang meminum kopi, sejatinya memang tidak perlu menggunakan gula (putih), karena rasa dan aroma kopi baru benar-benar terasa kalo tidak dihalangi dengan campuran pemanis.

Teh atau kopi memang minuman standar, yang diyakini punya beberapa manfaat. Tapi di samping manfaat yang ada, ternyata teh dan kopi juga mempunyai efek samping, bahkan bahaya. Kedua minuman ini kurang bagus bila dikonsumsi terlalu sering. Kadang kita temui orang yang demikin addict terhadap kopi dan teh, satu hari bisa sampai beberapa gelas.

Aku coba cari alternatif minuman lain di samping teh atau kopi. Pertimbangan pertama, minuman itu dari bahan-bahan alami (organik). Pertimbangan kedua, minuman itu punya khasiat dan manfaat kesehatan. Dari dua pertimbangan itu, minuman alternatif itu aku temukan di minuman jamu dan wedang.

Jamu dan wedang, sepanjang literatur yang aku baca, setidaknya punya 3 khasiat utama: detoksifikasi, memperlancar peredaran darah dan memperkuat kekebalan tubuh. Bahkan jamu dipercaya mampu berperan sebagai obat untuk beberapa keluhan yang sering dirasakan berkaitan dengan kesehatan, seperti pusing, masuk angin, dan haid tidak lancar (bagi wanita).

Aku pun mencoba minuman jamu dan wedang. Jamu kunyit asam dan temulawak beberapa kali aku minum. Untuk wedang, setelah beli dan meminumnya di warung dengan menu tradisional, aku memutuskan untuk membuatnya sendiri. Ini karena wedang bahan-bahannya bisa kita dapatkan dengan mudah di pasar tradisional, dan membuatnya pun cukup simpel, tidak serepot kalo kita membuat minuman jamu.

Berikut ini beberapa bahan yang bisa kita buat sebagai minuman wedang:

  • jahe
  • kapulaga
  • kayu manis
  • cengkeh
  • batang sereh
  • kayu secang

Dari bahan-bahan itu kita bisa membuat varian wedang, mulai wedang jahe, wedang kapulaga, wedang secang, wedang uwuh, atau bir pletok. Untuk pemanis, minuman wedang ini pakemnya menggunakan gula aren (gula merah). Bukan gula putih atau jenis pemanis buatan lainnya.

Intensif membuat wedang, paling tidak setiap dua hari aku mengonsumsinya, membuat di rak dapurku harus selalu tersedia bahan-bahan wedang di atas (jahe, kapulaga, cengkeh, kayu manis dan gula aren). Stok kopi dan teh masih ada, dan terindikasi jarang sekali aku pake, sudah jarang sekali mengonsumsinya, tergeser dengan minuman wedang. Karena menurutku sekarang, minum wedang lebih nendang daripada minum teh atau kopi. Apalagi kalo kita minum panas-panas, di sore atau malam hari, di suasana dingin sehabis hujan, rasa hangat dari khasiat unsur jahe dan kapulaga langsung menjalar ke seluruh tubuh. Tubuh langsung bereaksi dengan mengeluarkan keringat. Kepala jadi terasa enteng. Kalo kita lagi masuk angin ketika minum wedang, wah, khasiatnya akan bereaksi langsung. Angin jahat yang tersesat dalam tubuh (perut) akan langsung ditendang keluar dalam bentuk kentut 😁😁

SaveSave

SaveSave

322 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.