Narasi Hegemoni Bu Dendy #28HariNgeblog

Video Bu Dendy yang sedang memarahi seorang perempuan sembari menghujaninya dengan uang kertas puluhan juta menjadi viral di media sosial. Perempuan yang sedang dimarahinya itu disinyalir adalah pelakor (perebut laki orang) yang mana merupakan suaminya sendiri.

Selain aksinya melempar duit sebegitu banyaknya, yang menarik disimak adalah narasi yang terkandung dalam kata-kata amarah yang dimuntahkan keluar tanpa henti dari mulut Bu Dendy. Dalam video itu, jelas posisi bu Dendy dalam posisi yang dominan. Ia lah yang memegang kendali situasi. Bu Dendy bisa dianalogikan sebagai jaksa sekaligus hakim, dalam sebuah pengadilan terbuka. Sementara perempuan yang dimarahi habis-habisan olehnya adalah seorang pesakitan, seorang terdakwa yang pasrah dituntut dan dijatuhi hukuman apa saja.

Nyla Nylala, perempuan yang didakwa sebagai pelakor itu tak berkutik di hadapan hegemoni Bu Dendy. Diam seribu bahasa tanpa ada upaya pembelaan sama sekali. Kalopun ada laku pembelaan yang ia lakukan, aksi diam itulah mungkin bentuk pembelaannya.
Beginilah narasi hegemoni Bu Dendy..

Pengenmu opo kowe karo bojoku, kowe butuh duit?
(Pinginnya apa kamu dari suamiku, kamu butuh duit?)

Bu Dendy bertanya sekaligus memberikan vonis, Nyla merebut suaminya karena motif ekonomi: butuh uang.
Di video itu, narasi memang milik Bu Dendy. Maka bila ada kejadian perselingkuhan seperti apa yang dilakukan oleh suaminya (Pak Dendy) dan Nyla, yang melulu disalahkan adalah Nyla-nya sebagai pelakor. Tidak tersisa ruang untuk berbagai kemungkinan penyebab perselingkuhan. Apakah karena suaminya memang mata keranjang, sehingga masih melirik wanita lain seperti Nyla walalupun sudah beristrikan dirinya. Atau ada sebab dari Bu Dendy-nya sendiri sehingga membuat sang suami merasa tidak betah dan masih mencari wanita lain.

Atau bisa jadi memang Nyla-nya merebut suaminya, tapi bukan karena butuh uang, tapi benar-benar karena cinta atau senengnya pada Pak Dendy. Kowe butuh duit? Narasi Bu Dendy menyederhanakan masalah perselingkuhan hanya seputar uang, uang dan uang. Seolah-olah semua permasalahan yang ada hanya karena masalah ekonomi yang ujung-ujungnya adalah uang, dan ia pun merasa dengan uanglah semua permasalahan yang ada bisa selesai pula. Maka dilemparkanlah apa yang menurutnya diinginkan oleh Nyla dari suaminya, sejumlah besar uang!

Terus sebutan apa yang pantas saya sematkan untuk Mbak Nyla Nylala, teman baik saya ini? Lonte?
Ini pilihan kata yang menarik dari Bu Dendy 😊 Setelah sebelumnya menggunakan bahasa Jawa, kemudian disambung dengan bahasa Indonesia yang cukup baku. Mungkin karena dalam kalimat ini ada sebentuk penghormatan Bu Dendy akan pengakuan bahwa Nyla Nylala adalah teman baiknya. Yang pantas saya sematkan (untuk mbak..), bagian ini yang aku sebut cukup baku. Pilihan kata yang mengandung penghormatan dengan memanggilnya mbak, walaupun kemudian ditutup dengan pertanyaan yang langsung menjatuhkan harkat dan martabat Nyla Nylala, menyebutnya sebagai lonte, pelacur, orang yang menjajakan dirinya demi sejumlah uang.

Lalu aksi lempar duitpun dimulai. Butuhmu karo bojoku duit tho? iki lho duit! Nyoh! Panganen! (Butuhmu sama suamiku uang kan? Ini lho uangnya! Niihh! Makan itu uang!)
Ini janda gak nduwe isin. Kowe nek ngomong duitku akeh, tak akoni nek duitku akeh. Nggone Pak Dendy akeh. Tapi Kuwi aku sing nggolek..
(Ini janda gak punya malu. Kamu kalo ngomong uangku banyak, aku akui kalo uangku banyak. Punya Pak Dendy juga banyak. Tapi itu semua aku yang susah payah mencari..)

Di sinilah hegemoni Bu Dendy jelas terlihat. Kuasa uang berbicara. Aksi lempar uang sendiri menggambarkan bahwa ia punya banyak uang, ditambah lagi dengan pengakuan langsung dari Bu Dendy, tak akoni duitku akeh. Ia sempat menyebutkan juga uang Pak Dendy suaminya, tapi ditutup dengan kalimat selanjutnya, tapi aku sing nggolek, menyinggung lagi peran Bu Dendy yang demikian dominan dalam rumah tangganya. Dengan keringat kita berdua, tanpa ada aku, Pak Dendy gak iso..

Kok penakmen kowe, duit limang juta, sepuluh juta, lima belas juta..
(Kok begitu enaknya kamu minta uang lima juta, sepuluh juta, lima belas juta…)
Kalimat ini terselip di antara aksi melempar uang Bu Dendy pada Nyla Nylala. Ada bentuk kemarahan dari Bu Dendy berkaitan dengan harta dan kekayaan yang selama ini yang dengan susah payah ia kumpulkan bersama suaminya, yang mana di situ ia yang lebih dominan perannya, lalu ada Nyla Nylala yang dengan enaknya merongrong harta kekayaannya lewat selingkuh dengan Pak Dendy, suaminya.

Kemarahan Bu Dendy, tak semata-mata karena cintanya direbut oleh teman baiknya, tapi karena duitnya juga direbut, lewat mutasi rekening suaminya ke Nyla Nylala. ..tapi aku ngerti kabeh mutasi rekeninge de’e (tapi aku tahu semua mutasi rekening yang dilakukan suamiku)

Jadi hegemoni Bu Dendy adalah hegemoni uang. Segala masalah dan kekacauan yang terjadi dalam rumah tangganya adalah seputar uang. Nyla Nylala, teman baiknya, merongrong keluarganya lewat selingkuh dengan suaminya karena uang. Tak hanya merongrong keutuhan keluarganya tapi juga merongrong harta kekayaannya yang susah payah mereka kumpulkan selama ini dengan peran dominan darinya.

Lalu dengan kuasa uanglah, semua itu bisa Bu Dendy selesaikan. Harga dirimu tak tuku! (harga dirimu aku beli!)
Bu Dendy seperti layaknya pengusaha, rela mengeluarkan beberapa gepok uangnya (dengan melemparinya pada Nyla Nylala), demi mengamankan aset kekayaannya yang terancam oleh masuknya Nyla Nylala dalam kehidupan rumah tangganya.

Benarkah demikian?
Wallahu a’lam 😊 Ini sekadar upaya semiotika seadanya dari video viral Bu Dendy dan Mbak Nyla 😊😊

SaveSave

483 total views, 16 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *