Paradoks Nasi Goreng #28HariNgeblog

“Bakso, nasi goreng enaak..” begitu kata Barrack Obama sewaktu mengunjungi Indonesia tahun 2010. Beliau memang menghabiskan sebagian masa kecilnya di Indonesia, dan sepanjang waktu itu Barrack Obama akrab dengan kuliner Indonesia yang dijajakan keliling dari rumah ke rumah. Makanan khas Indonesia khas urban yang dijajakan keliling itu antara lain: sate ayam, bakso dan nasi goreng. Ketiga makanan itu pun jadi tren dan mendunia.

Tapi lain Barrack Obama, lain pula Kaka Slank. Jangankan nasi goreng, nasi putih pun ia sudah lama tak mengonsumsinya. Makan nasi membuatnya terasa sesak, sehingga tak leluasa untuk beraktifitas di atas panggung. Ia pun menyadari bahwa sesuai dengan usianya yang semakin bertambah, kerja metabolisme di dalam tubuhnya semakin menurun.

Di Indonesia nasi memang menjadi paradoks. Ia jadi pangan kebutuhan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Bila terjadi sesutau dengan produk beras, entah itu kelangkaan stok, kenaikan harga, atau penurunan kualitas, langsung menjadi isu utama di tanah air. Harga beras naik misalnya, atau kebijakan impor beras, akan langsung jadi perbincangan hangat di negeri ini.

Sejak kecil, dalam dunia pendidikan, diajarkan bahwa makanan pokok bangsa ini adalah nasi yang dimasak dari beras. Kita pun akhirnya terbiasa untuk selalu makan nasi, paling tidak 3 kali sehari. Bila belum makan nasi belum lengkap rasanya, atau bahkan belum dianggap sebagai makan pokok. Misalnya pada sore hari menjelang malam, kita sudah makan siomay dan bakso. Dan perut kita kenyang karena dua makanan itu, tetap saja kita menganggapnya belum makan malam, dan mesti makan nasi lagi beserta lauknya untuk ‘menunaikan kewajiban’ makan malam 😊

Tapi belakangan disinyalir, nasi putih yang kita konsumsi sehari-hari bukanlah jenis makanan yang sehat untuk dikonsumsi. Apalagi bagi mereka yang sudah berumur, dan merasakan betul terjadi penurunan yang signifikan di sistem metabolisme tubuh mereka. Kaka Slank misalnya.

Beras putih digiling dan diolah sebelum dipasarkan. Hal ini membuat bagian penting dari beras bisa hilang. Bagian kulit dan beberapa mikroba baik yang kaya serat makanan serta nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan akan hilang.

“Jika beras putih ini mengalami proses lebih lanjut, misalnya polishing (pemutihan) maka lapisan aleuron yang hilang akan membuat nutrisi juga hilang. Lapisan ini kaya akan vitamin B, nutrisi lain, tiamin, dan lemak esensial,”

Begitu paparan Gargi Sharma, Ahli Manajemen Berat Badan tentang nasi putih yang sehari-hari kita konsumsi. Menurut Yee Zong Kang, Direktur Pelaksana Health Promotion Board, Singapura, orang Asia lebih mudah terkena diabetes karena lebih banyak mengonsumsi nasi putih. Nasi putih yang mengandung zat pati bisa membebani tubuh dengan gula darah, dan meningkatkan risiko diabetes.

Dari paparan Gargi Sharma, kita mendapati bahwa beras putih telah banyak kehilangan nutrisinya karena terlalu banyaknya proses yang harus dilewati sampai ia menjadi beras putih. Belum kemudian ia dimasak dengan menggunakan pemasak nasi listrik (rice cooker), dengan tingkat panas yang sangat tinggi akan semakin mengurangi lagi nutrisi yang sebelumnya sudah banyak terbuang. Selain itu, dari Direktur Health Promotion Board Singapura, kita mendapati di nasi putih mengandung zat pati yang tinggi sehingga beresiko pada peningkatan kadar gula darah.

Bila sampai proses nasi putih sudah sedemikian tinggi resiko kesehatan yang akan dihadapi, maka bagaimana pula bila dari nasi putih itu diproses lagi dengan digoreng menggunakan minyak goreng (mengandung banyak lemak) menjadi nasi goreng, yang menurut Barrack Obama tadi cukup enak. Apalagi nasi goreng ini sering dijajakan pada malam hari sampai waktu tengah malam, waktu dimana perut dan lambung mestinya sudah memasuki jam istirahat, yang mana bila dilanggar akan menyebabkan tumpukan lemak yang tidak diinginkan.

Dalam kuliner Indonesia, dan mungkin kuliner-kuliner belahan dunia lainnya, rasa enak dan resiko kesehatan memang sering berdampingan. Paradoks kuliner yang sering tidak kita gubris begitu kita mencium aroma masakan yang sedap menggoda, dan kebetulan perut kita dalam kondisi keroncongan 😊

SaveSave

SaveSaveSaveSaveSaveSaveSaveSave

SaveSave

310 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.