Orang Jawa Naik Ke Langit, Obituari Pak Danarto

Paling tidak ada dua nama cerpenis yang waktu aku kuliah demikian melekat dalam benak. Mereka, dua orang cerpenis itu, menurutku, sudah dalam taraf mampu, tidak saja menyusun kata-kata dan alur cerita demikian lihainya, tapi juga mempermainkan kata-kata dan alur seenak perut mereka sendiri.

Yang satu Putu Wijaya, dan yang satunya lagi Danarto.

Tema dan permasalahan yang mereka angkat dalam cerita-cerita mereka sama, yaitu tema dan permasalahan hidup sehari-hari. Yang berbeda adalah sudut pandang dan ending cerita. Itulah kenapa, Danarto kemudian dikenal sebagai sastrawan beraliran surealisme, mistisisme dan realisme magis.

Surealis, ketika dalam cerita Danarto, realitas demikian mudah diutak-atik dan berubah drastis sedemikian rupa oleh tokoh-tokoh dalam ceritanya karena mereka juga punya ‘kuasa’ untuk mengatur sedemikian rupa realitas. Makhluk dan Tuhan melebur jadi satu kuasanya dalam cerita Danarto. Membolak-balik realitas sebagaimana Kuasa Tuhan pun mampu dilakukan oleh makhluk yang telah menyatu dan berpadu dengan-Nya.

Menurut Sawali Tuhusetya, Danarto adalah penulis yang dilandasi alam pikiran moral panteistis yang meyakini bahwa segala-galanya merupakan penjelmaan Tuhan.

*sumber Tirto.id

Mendengar kata panteistis/panteisme, pikiran kita kemudian tertuju pada nama seorang Sufi kontroversial di jamannya. Bila di tanah Arab kita mengenal sosok al-Hallaj, di tanah air kita tahu sosok Syekh Siti Jenar, yang mengajarkan wahdatul wujud, kesatuan esensi antara Tuhan dan makhluknya, sehingga Kuasa Tuhan menjelma dalam perilaku dan realitas yang dialami manusia sehari-hari.

Menyufi dan dunia mistisme, tak hanya diterapkan Danarto dalam cerpen-cerpennya. Itu tergambarkan juga dari coretan-coretan gambarnya. Ia kerap menggambarkan sosok makhluk mistis seperti Jibril dan makhluk Bouraq, yang menjadi kendaraan Nabi Muhammad Saw sewaktu Isra’ Mi’raj.

Di kemudian hari, aku juga akhirnya tahu, bahwa Danarto memang benar-benar menyufi dalam kehidupannya sehari-hari. Bukan sekadar menulis cerita dengan gaya sufistik, karena gaya ini beda dengan yang lain, dan sengaja dipilih agar kelihatan nyentrik di mata pembaca-pembacanya.

Mafhum terjadi, beberapa penulis menulis buku-buku spiritual, tapi perilaku sehari-harinya jauh panggang dari api dengan apa yang mereka tulis. Di media sosial seperti sekarang ini, bahkan status-status yang mereka update, cukup bertentangan dengan apa yang ‘mereka ajarkan’ dalam buku-buku mereka.

Danarto, beberapa bulan sebelum ia berpulang, menemui Sosok yang demikian menjadi obsesi dan orientasi dalam cerita-ceritanya, berujar pada temannya sesama budayawan, agar tak lagi mencarinya, “Anggap saja aku sudah tidak ada..”
Bila kita suka membaca beberapa literatur ajaran sufi, maka kita akan segera paham sikap Danarto yang terakhir itu adalah apa yang disebut sikap fana’ atau moksa (dalam istilah spiritualisme jawa). Sikap untuk secara sengaja menyirnakan eksistensi diri dan egonya. Dalam bahasa yang lain, diistilahkan sebagai ‘mati sebelum mati’, meniadakan diri sebelum benar-benar tiada yang sesungguhnya, “Anggap saja aku sudah tidak ada..”

Sastrawan sekaliber Danarto sudah mencapai tahap dimana ketokohannya dalam dunia sastra, tak kemudian membuatnya bersikap agar orang-orang menghormati dan memperhitungkan keberadaan dirinya, padahal secara kualitas dan ketokohan, ia sangat layak untuk mendapatkan perlakuan itu. Kita sering mendengar bagaimana orang-orang berkuasa pada jaman dulu atau para pejabat yang mempunyai posisi penting di instansinya, menderita post power syndrome, merasa tak berharga lagi di hari tuanya, karena eksistensi dan ketokohannya pudar dan akhirnya hilang, tak dihiraukan lagi oleh orang-orang yang dulu demikian menghormati dan mematuhinya, seiring posisi jabatan penting dan kekuasaan terlepas dari dirinya, sewaktu ia harus memasuki masa pensiun.

Menganggap ketokohan atau eksistensi dirinya tak lagi penting, pun dalam soal harta benda yang menjadi penopang kehidupannya sehari-hari. Danarto diketahui hidup dalam petak kontrakan, yang isinya hanya disesaki tumpukan koran, buku-buku dan lembar-lembar kertas lukisannya yang sebagian belum selesai. Radhar Panca Dahana, temannya sesama budayawan berulang kali menawarinya untuk tinggal di rumahnya, tapi Danarto selalu tak pernah menghiraukan tawaran itu. Hidup apa adanya dengan kondisi kekurangan, tak kemudian menjadikan Danarto terpaksa meminta-minta bantuan pada teman-teman sastrawan atau budayawan yang lain untuk membantu menopang hidupnya.

Bagaimana anda melalui kesulitan-kesulitan hidup?
Suatu kali Danarto ditanya oleh redaksi Kumparan dalam sebuah wawancara, jawabnya, “Oh, masih terus terjadi. Mungkin nanti akan lebih besar lagi (kesulitan-kesulitannya). Tapi ya harus sumarah (pasrah), seperti dikatakan dalam al-Quran, (Tuhan mengatakan) ‘kamu akan Saya uji terus menerus, tidak bisa kamu bilang beriman sebelum Saya uji.’
Tapi saya sadar, saya ini barang ciptaan. Ok lah, pokoknya karuniai hamba bisa mengatasi (kesulitan ini) dan sukses..”

Begitulah sikap Danarto dalam menghadapi kesulitan hidup yang melilitnya. Tidak ada keluh, kesal atau rasa menyerah, lalu membuatnya mengiba-iba meminta belas kasih dan bantuan orang lain untuk membantu dirinya.

Danarto, dalam terminologi sufi, telah mencapai tahap qona’ah, puas/ikhlas atas segala keadaan yang menimpa dirinya. Ia tak merasa cemburu atas kenikmatan dan kenyamanan orang lain yang diberikan kenikmatan dan kelebihan jauh di atas dirinya.

Bila di tahun 1984, Danarto menulis kumpulan kolom berjudul ‘Orang Jawa Naik Haji’, maka pada tanggal 10 April 2018, setelah mengalami koma akibat kecelakaan, Danarto telah menuliskan realitas atas dirinya bahwa ‘Orang Jawa (dirinya, telah) Naik Ke Langit’

Selamat jalan (ke langit) Pak Danarto..

155 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *