Optimisme Kepak Bango Kuliner Indonesia

Tebak, ada berapa jenis kuliner soto yang ada di negeri kita ini?

Yang langsung terlintas di kepala mungkin hanya sekitar belasan jenis soto yang memang selama ini akrab dengan lidah kita. Sebutlah soto Betawi, soto mie Bogor, soto sulung, soto Madura, soto Banjar, soto Padang, dan yang lainnya.

Dari Festival Jajanan Bango yang diadakan tanggal 10-11 April kemarin, yang mengangkat tema khusus kuliner soto, aku baru tahu, jumlah belasan jenis soto yang kita tebak ternyata masih cukup sedikit dibandingkan ragam jenis soto yang sudah terdata. Ada sekitar 75 jenis kuliner soto yang ada di tanah air.

Pertama kali diselenggarakan sejak tahun 2005, tahun ini Festival Jajanan Bango telah menginjak event yang ke-13. Event ke-13 ini juga berbarengan dengan perayaan 90 tahun kecap Bango hadir ikut menyumbang cita rasa perkulineran Indonesia. Sebuah perjalanan menjaga eksistensi produk bercita rasa yang sangat panjang, berawal dari tahun 1928 diawali dari tekad pembuatnya, Tjoa Pit (Boen) yang menjajakan kecap Bango dari toko kecil di garasi rumahnya. Tekad agar produknya dapat terbang tinggi hingga ke manca negara, seperti layaknya burung bango yang terbang tinggi bebas di angkasa.

Awal Mula

Berawal dari tahun 2004-2005 dimana dunia perkulineran Indonesia mulai bergeliat, seiring dengan maraknya acara-acara kuliner di layar televisi. Tidak hanya kuliner-kuliner kelas menengah ke atas yang menjadi sorotan perhatian, tapi juga kuliner-kuliner kaki lima pinggir jalan, bahkan yang sampe masuk ke gang-gang kecil.

(Demam kuliner Indonesia di layar kaca ini mungkin tidak lepas dari peran seorang alm. Bondan Winarno, yang dengan quote khasnya โ€˜mak nyusโ€™ giat bergerilya mendatangi setiap sudut kota di berbagai daerah di Indonesia, untuk dicicipi oleh beliau, diberikan sedikit penilaian, kemudian dipublikasikan ke berbagai media).

Kecap Bango (yang sejak tahun 2001 diambil alih oleh PT Unilever) merasa perlu untuk menindaklanjuti demam kuliner saat itu dalam bentuk festival kuliner, sebuah event yang memang saat itu belum ada. Tim panitia festival melakukan kurasi terhadap produk-produk kuliner, terutama di Jakarta (dan empat kota besar lainnya). Yang dikurasi semua produk kuliner khas Indonesia dengan pertimbangan cita rasa dan juga popularitasnya di kalangan konsumen, tidak juga dibatasi apakah produk tersebut menggunakan unsur kecap atau tidak. Hal ini diakui sendiri oleh Uda Rizal, yang pada event #FJB2018 bercerita bagaimana pertama kalinya produk kulinernya, Sate Padang Ajo Ramon, ikut event Festival Jajanan Bango. โ€œTidak ada syarat, kami harus pake kecap bango atau tidak..โ€ ujarnya. Sate padang Ajo Ramon memang tidak menggunakan kecap dalam penyajiannya.

Tahun 2005 diadakanlah Festival Jajanan Bango yang pertama, di Jakarta. Setelah itu, event ini rutin diselenggarakan tiap tahun, tidak hanya di kota Jakarta, tapi juga diselingi dengan tur di empat kota besar lainnya seperti Bandung, Semarang, Surabaya dan Malang.

Tematik dan Upaya Gastronomi

Menurut Arie Parikesit, sejak tahun kemarin, Festival Jajanan Bango, mulai intensif mengusung tema khusus. Bila tahun ini tema khususnya adalah mengenai kuliner soto, tahun sebelumnya tema khusus yang diangkat adalah usaha kuliner yang dipelopori dan dimotori oleh anak muda (rentang usia 20 sampai 30 tahunan). Oleh karena itu di beberapa booth di #FJB2018 kali ini, menyambung dari event tahun lalu, terdapat produk-produk kuliner anak muda seperti cupcake, pancake dan semacamnya.

Untuk tema khusus mengenai kuliner soto di #FJB2018 sebenarnya cukup bagus untuk membuat festival ini tak hanya berkutat pada soal kuliner semata (sebatas cita rasa dan upaya menyantap produk kuliner yang ada) tapi juga berusaha menyentuh unsur gastronomi dari kekayaan masakan khas yang ada di Indonesia. Di tenda lobby selamat datang, yang harus dilewati begitu kita masuk ke area Festival Jajanan Bango kali ini, dipajang beberapa papan grafis yang cukup besar, berisi informasi mengenai peta situasi kuliner nusantara, dengan penekanan informasi mengenai kuliner soto dari budaya beserta unsur-unsur khas dari ragam jenis soto yang ada di tanah air.

Beberapa bagian lainnya, ada beberapa booth yang mendisplay kekayaan rempah-rempah nusantara yang menjadi NYAWA dari seluruh ragam kuliner khas tanah air. Salah satu yang menjadi pembeda antar jenis kuliner Indonesia satu dengan yang lainnya adalah pilihan/pemilihan jenis rempah yang berbeda-beda. Seperti membedakan jenis soto antara soto Kudus dan soto Padang, misalnya. Juga mie Aceh dengan mie Jawa. Dan banyak contoh lainnya.

Booth yang cukup menarik berkaitan dengan display rempah nusantara ini adalah booth tebak rempah. Maksudnya untuk menguji seberapa dalam pengetahuan kita tentang rempah nusantara. Cukup menarik berkaitan dengan upaya mengaitkan festival ini dengan unsur gastronomi masakan Indonesia, tapi sayangnya tak cukup menarik bagi pengunjung. Booth bagian ini terlihat sepi, waktu aku sampai di sana. Kalah pamor dengan booth-booth untuk ber-selfie seperti booth display gerobak sate, dan soto mie. Di sana para pengunjung bisa berpose ala penjual sate yang sedang mengipasi satenya, atau abang tukang soto mie yang sedang menuangkan kuah soto ke dalam mangkok sajian. Bisa ditebak, bahwa sebagian besar pengunjung festival ini adalah para netizen yang budiman, yang tinggi tuntutan update status media sosial mereka dengan unsur selfie ๐Ÿ˜Š

Tematik khusus kuliner soto di Festival Jajanan Bango kali ini, kalo bisa disebut sebagai kekurangan yang menonjol adalah minimnya booth kuliner yang menjajakan ragam jenis soto tanah air. Hanya beberapa jenis soto saja yang dapat ditemui seperti soto padang, soto bangkong (Semarang), soto mie bogor, soto Sokaraja. Soto Kudus, yang cukup legendaris (menurutku) tak tampak booth-nya di #FJB2018. Padahal di Jakarta sendiri cukup banyak ditemui warung-warung soto Kudus yang cukup populer cita rasanya. Sebagai orang asli Kudus, aku sedikit kecewa ๐Ÿ˜Š

kecewanya cuma sedikit sih.. ๐Ÿ˜

Mungkin seperti kata Arie Parikesit, semua produk kuliner yang ikut meramaikan event #FJB2018 bukan hanya karena soal cita rasa dan popularitas mereka di kalangan konsumen, tapi juga kesiapan sumber daya produk kuliner itu untuk melayani konsumen di event yang diadakan selama 2 hari itu. Beberapa produk kuliner yang lolos akurasi tim panitia, tak mampu ikut karena tidak mempunyai SDM untuk menjaga dan melayani konsumen di booth event #FJB.

Mengenai SDM yang diterjunkan khusus untuk menjaga dan melayani konsumen di event #FJB2018, aku melihat produk kuliner yang paling all out dalam hal ini adalah Sate dan Tongseng Solo Pak Budi. Yang gerai kulinernya ada di beberapa titik lokasi di Jakarta seperti Duren Sawit dan Bintaro. Pak Budi turun langsung beserta istri dan anaknya. Tenaga pramusaji yang terlihat sibuk melayani pembeli ada sekitar 6-7 orang. Booth mereka juga tak pernah sepi dari pembeli yang menunggu dilayani.

Peran BEKRAF

Yang menarik dari beberapa elemen grafis di event #FJB2018 adalah terpampangnya logo Bekraf, walau dengan ukuran yang kecil. Sewaktu aku konfirm dengan Arie Parikesit, Bekraf memang ikut terlibat dalam Festival Jajanan Bango, tepatnya sejak event tahun kemarin.

Bekraf menilai kekayaan kuliner tanah air adalah satu elemen penting ekonomi kreatif Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. Peran Bekraf yang aku tangkap dari pembicaraan dengan Arie Parikesit dalam event #FJB adalah membantu mengangkat potensi produk kuliner yang ada untuk lebih bisa go international, dan juga dengan menyokongnya dari sisi manajerial dan distribusi.

Tentu upaya Bekraf ini patut diapresiasi dan didukung sepenuhnya, apalagi mengingat di media sosial beberapa waktu sebelumnya ramai pembicaraan memgenai beberapa ragam kuliner khas Indonesia yang nyaris punah. Bahkan bila ditilik dari sejarah panjang kuliner (dan mungkin juga Gastronomi) ada beberapa jenis kuliner Indonesia yang sudah punah.

Di tengah upaya mengangkat kuliner Indonesia untuk Go International (bukan hanya sampai di manca negara, tapi juga menjadi kuliner populer di sana), ancaman kepunahan beberapa ragam jenis kuliner Indonesia ini tentunya jadi berita yang menyedihkan.

Tapi dari antusiasme masyarakat yang hadir di event #FJB2018 (walau di tengah terik matahari yang menyengat di hari pertama), peserta tetap membludak, meja makan yang tersedia tidak pernah kosong, ramai sesak dengan masyarakat yang dengan semangat (dan juga berkeringat) menyantap kuliner-kuliner yang dijajakan. Yang terlihat dari suasana yang antusias tersebut adalah hilangnya kepesimisan yang selama ini jadi semacam momok, bahwa kuliner khas tanah air tak mampu jadi tuan rumah di negeri sendiri. Malah yang menonjol adalah optimisme agar kuliner Indonesia melanglang buana hingga ke manca negara.

Melanglang buana terbang tinggi, seperti burung bango yang terbang bebas di langit, seekor burung yang dipilih menjadi logo dan nama oleh Tjoa Pit (Boen) ketika pertama kali memproduksi kecap Bango, di tahun 1928.

166 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *