Ramadan, Kesempatan untuk Sehat (1) #20HariMenulisRamadan

Tujuan ibadah puasa di bulan Ramadan yang sering kita denger adalah untuk menjadi orang yang bertaqwa (la’allakum tattaquun). Tapi manfaat dari aktifitas berpuasa tidak hanya melulu soal spiritual. Beberapa buku dan kajian ilmiah kedokteran membuktikan kalo berpuasa mempunyai efek yang luar biasa terhadap kesehatan.

Beberapa waktu lalu, di blog ini gw ngebahas soal tips diet yang gw jalani selama ini. Kesimpulan yang gw dapet sewaktu ngejalani pola makan diet yang akhirnya bikin berat badan gw turun secara signifikan dan kesehatan gw berangsur lebih baik, adalah bahwa aktifitas puasa menjadi aktifitas inti dari pola makan diet itu. Walaupun puasa bukan dalam artian puasa syariah yang kita jalani sekarang ini di bulan Ramadan. Puasanya dalam rangka detoksifikasi, membersihkan lambung dari zat-zat atau unsur-unsur yang tidak dibutuhkan oleh tubuh.

Memang sisi kesehatan dari aktifitas puasa adalah manfaat detoksifikasinya. Ada orang yang menganalogikan kerja lambung ini seperti halnya kerja mesin. Ia tidak bisa diforsir terus menerus. Butuh istirahat, butuh ganti oli ataupun ditune-up. Nah, setelah ganti oli dan ditune-up, kondisi mesin akan kembali fit dan kinerja akan kembali ‘greengg’. Begitu juga dengan lambung manusia. Di luar bulan Ramadan, tiap hari lambung dijejali dengan makanan, yang saat ini seringnya mengandung unsur-unsur makanan yang gak sehat. Kalopun makanan yang dikonsumsi tiap hari adalah makanan yang sehat 100%, proses dari pencernaan makanan sendiri akan menghasilkan sisa-sisa pencernaan yang tidak semuanya terbuang dalam aktifitas buang air (besar atau kecil).

Yang gw pahami dari proses detoksifikasi dengan berpuasa ini, pada saat kita berpuasa dari subuh hingga maghrib, saat tidak ada makanan ataupun minuman yang masuk dalam lambung, tubuh tetep butuh zat makanan untuk aktifitas metabolisme tubuh.
Dari mana zat makanan itu didapat?
Dari sisa makanan yang kita konsumsi di waktu sebelumnya. Walaupun di waktu sebelumnya kita udah sempat buang air besar.
Apa cukup?
Cukup banget. Bahkan lebih dari cukup. Secara teori gizi dan kesehatan, stok zat makanan di dalam tubuh manusia mampu membuatnya bertahan tanpa makan 2 sampai 3 minggu ke depan. Berbeda dengan kebutuhan air bagi tubuh. Manusia gak akan mampu bertahan lebih dari 3 hari tanpa asupan air yang masuk ke dalam tubuhnya. Ini pernah dibuktikan oleh seseorang yang mempraktekkan diet dengan tidak memasukkan makanan ke dalam tubuhnya selama 23 hari lamanya. Selama waktu itu ia hanya mengonsumsi air putih. Istilah lainnya, ia melakukan program diet dengan metode water fasting.

Nah, apatah lagi bagi kita yang menjalani aktifitas puasa (tidak makan dan tidak minum) ‘hanya’ 13-14 jam lamanya. Zat makanan di dalam tubuh sangat cukup untuk ‘memback-up’ aktifitas badan selama 13-14 jam puasa itu. Maka sebenarnya tidak ada ceritanya orang yang sakit parah atau bahkan meninggal hanya gegara menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan. Kalo ada yang belum ‘terbiasa’ dengan aktifitas puasa, reaksi standar yang terjadi adalah (merasa) lemas dan pusing. Dan juga rasa lapar yang melilit. Mengingat sebenarnya stok zat makanan di dalam tubuh sangat cukup dalam memback-up aktifitas tubuh selama puasa, maka reaksi-reaksi yang ada seperti lemas, pusing dan lapar lebih sebagai sugesti, karena selama ini perut atau lambung ‘sangat terbiasa’ untuk selalu dalam kondisi terisi, sehingga ketika dalam jangka waktu yang cukup lama kondisinya kosong, seketika bereaksi dengan menimbulkan rasa lapar, lemas dan pusing.

(bersambung)

237 total views, 3 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.