Ramadan, Kesempatan untuk Sehat (2) #20HariMenulisRamadan

Coba kita perhatiin sebelum bulan Ramadan, pas kapan kita ngerasain lapar dalam jangka waktu lama? Kayaknya gak pernah. Seringnya begitu rasa lapar menyerang, langsung kita buru-buru melakukam upaya P3K, Pertolongan Pertama Pada Kelaparan, hehehe. Ada bahkan orang yang mungkin gak pernah merasakan kondisi lapar dalam hidupnya. Di sela-sela waktu makan standar 3 kali sehari, perutnya senantiasa terisi dengan asupan makanan cemilan dan makanan selingan lainnya.

Padahal menurut Dr. Hiromi Shinya dalam bukunya, The Miracle of Enzym, mengatakan, kondisi perut/lambung terbaik adalah dalam kondisi lapar. Di saat itu, sistem imun tubuh menunjukkan performanya. Sel-sel darah putih, yang bertugas menghancurkan sel-sel jahat dan racun dalam tubuh bekerja secara maksimal, apabila perut/lambung dalam kondisi lapar. Perut yang terisi penuh dengan makanan, membuat sel-sel darah putih juga ‘ikut kekenyangan’ sehingga membuatnya lena dari tugasnya menjadi penjaga utama imunitas tubuh.

Kebalikan dari itu, masih menurut Dr. Hiromi Shinya, kondisi perut/lambung yang buruk atau bahkan paling buruk adalah dalam kondisi kenyang atau bahkan kekenyangan. Pertama, karena lambung harus bekerja keras untuk mengolah makanan dalam jumlah besar, yang bisa jadi sering melebihi kapasitas kerja efektifnya. Kedua, kondisi kenyang/kekenyangan mengakibatkan penumpukan zat-zat makanan dalam bentuk lemak tak baik yang bila bertumpuk terus menerus akan mengakibatkan efek negatif bagi kesehatan di kemudian hari. Ketiga, seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, akan sebabkan sistem imun tak berfungsi dengan baik, atau bahkan terganggu.

Sampai di sini, gw langsung keingetan dengan hadis tentang pola makan yang disampaikan langsung oleh Baginda Nabi ‘makan sewaktu lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang’. Hadis tentang pola makan ini disampaikan Nabi empat belas abad yang lalu. Empat belas abad kemudian, dari seorang Dr Hiromi Shinya, kita jadi semakin paham dan gamblang apa yang dimaksud Baginda Nabi tersebut.

Sepanjang pengetahuan gw, hadis tentang berhenti makan sebelum kenyang, awalnya tidak dikaitkan langsung dengan efek kesehatan, tapi lebih pada efeknya pada kegiatan ibadah. Prinsip Baginda Nabi, makan atau makanan fungsi utamanya adalah untuk menunjang kegiatan beribadah, bukan malah sebagai penghalang/beban, sehingga membuat kaum muslimin jadi bermalas-malasan dalam beribadah. Mengenai kekhawatiran Baginda Nabi ini bisa kita lihat di kondisi sekarang pada waktu Bulan Ramadan ini. Saking menahan lapar berjam-jam lamanya, ada semacam balas dendam untuk makan sebanyak-banyaknya di waktu berbuka. Walhasil setelah berbuka, perut kekenyangan. Kantuk dan rasa malas yang sangat menghinggapi sekujur tubuh. Jangankan ibadah tarawih, sholat maghribpun berasa berat bener buat dikerjain. Dan seringnya kejadian, gak sholat tarawih karena malas dan ngantuk setelah kekenyangan berbuka. Makanan telah bergeser jauh untuk sekadar penunjang tubuh agar mampu melaksanakan ibadah dengan giat menjadi penghalang utama kegiatan beribadah.

Berbeda misalnya kalau kita berbuka dengan makan ala kadarnya. Rasulullah mencontohkan dengan makan kurma satu atau tiga butir saja (jumlah ganjil) dan minum air putih. Setelah itu beliau sholat maghrib.
Kayak gitu apa kenyang?
Memang gak kenyang, tapi cukup menghilangkan rasa lapar. Bahkan banyak testimoni, minum beberapa teguk air saja pada waktu berbuka, sudah cukup menghilangkan banyak ragam keinginan akan makanan yang menjadi obsesi di siang hari ketika berpuasa.

Ibadah puasa menunjukkan relativitas rasa lapar dan kenyang. Manusia lebih sering tertipu hawa nafsu perut, yang bila diperturutkan dengan membabi buta, bukan saja mengakibatkan kemalasan dalam beribadah, tapi juga efek negatif kesehatan yang membahayakan.

(bersambung)

125 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.