Ramadan dan Ponsel #20HariMenulisRamadan

Sebelum memasuki bulan Ramadan, sebenernya banyak pengingatan-pengingatan yang gw denger, biar ibadah kita nanti di bulan suci bisa konsen dan menghasilkan ibadah yang gak cuma berhasil secara kuantitatif, tapi juga sukses secara kualitatif. Salah satu pengingatan itu adalah agar kita mengurangi secara signifikan aktifitas ber-ponsel kita. Tapi seringnya begitu, pengingatan-pengingatan tadi cuma masuk ke kuping kanan terus keluar lagi di kuping kiri, alias sekadar lewat aja, gak diamalin ๐Ÿ™‚

Aktifitas berponsel ya macem-macem sebenernya. Kalo sekarang ponsel itu jarang dipake buat telpon-telponan, seringnya buat chatting dan ber-medsos. Biarpun keliatannya sepele, tapi ternyata dua aktifitas berponsel tadi cukup banyak menyita waktu. Gak cuma makan waktu hitungan menit, tapi sampai berjam-jam. Dan waktu segitu kita habiskan tanpa terasa. Banyak yang bilang, aktifitas berponsel dengan medsos-nya adalah aktifitas yang paling tepat untuk ‘killing the time’. Sejak ada ponsel, sekarang kalo lagi ngantri panjang atau menunggu panggilan periksa dokter, gak terasa membosankan lagi. Nunggu sampai 30 menit bahkan satu jam, masih belum terasa membosankan, karena disambi dengan update status di medsos, atau terlibat dalam perang diskusi di facebook atau terlibat twitwar di Twitter. Oh ya, perang diskusi sama twitwar ini malah kalo dijabanin gak cuma makan waktu satu jam dua jam, bahkan bisa sampai berhari-hari. Hihihi, gimana gak habis waktu tuh kalo begitu, cuma dengan ber-ponsel-ria.

Kalo sudah begitu, jangankan di bulan Ramadan, di bulan-bulan biasa aja, aktifitas sehari-hari kita, misal bekerja dan ber-sosial di masyarakat, bisa keganggu dengan aktifitas ber-ponsel kita. Bahkan secara ekstrim dikatakan kalo berponsel secara akut bisa menghasilkan manusia-manusia atau generasi autis (istilah ini walau mendiskreditkan penderita autis, tapi sempat muncul untuk menggambarkan betapa tidak pedulinya mereka akan lingkungan sekitar, atau orang-orang terdekat sewaktu sedang asyik berponsel-ria).

Nah, apalagi di bulan Ramadan, yang mestinya waktu kita banyak dihabiskan untuk beribadah, sayang kalo akhirnya kebuang sia-sia hanya dengan sibuk berponsel-ria. Diskusi di Facebook atau twitwar di Twitter bukannya gak ada manfaatnya. Ada sih. Tapi kalo dibandingin dengan aktifitas ibadah yang mustinya kita pantengin di bulan suci, yang kesempatannya cuma datang setahun sekali, dan itupun belum tentu tahun depan kita dapet kesempatan lagi, bolehlah dibilang dua hal itu jadi hal yang kerasa sia-sia aja kalo diturutin di bulan Ramadan ini. Apalagi melihat kondisi politik di tanah air yang semakin memanas, yang juga berimbas di lingkungan media sosial, debat atau twitwar di media sosial malah sering menyeret kita berbuat di luar kendali: memaki, memfitnah, memprovokasi, dan yang lainnya.

Memang aktifitas berponsel-ria gak bisa lepas sama sekali dari manusia yang sudah jadi netizen di zaman now, tapi di bulan Ramadan ini, paling nggak coba dikurangi atau dialihkan sebagian kuota waktu berponselnya untuk melakukan ibadah-ibadah yang memang sangat dianjurkan di bulan mulia ini. Misal mengalokasikan waktu bangsa satu atau dua jam untuk tadarus al-Quran. Waktu satu jam itu cukup untuk membaca Quran sebanyak 1 juz. Dua jam akan lebih banyak lagi bacaan juz yang didapat. Sehingga bila kita konsisten menyisihkan waktu untuk tadarus ini, tidak sampai 1 bulan, kita sudah bisa mengkhatamkan bacaan al-Quran.

Di malam hari, bagi yang gak pingin ibadah sholat tarawihnya bolong-bolong, juga harus mengalokasikan waktu malam harinya bangsa satu setengah jam untuk pergi ke masjid, sholat tarawih berjamaah. Di akhir bulan Ramadan nanti akan ada waktu sepuluh hari yang kita dianjurkan untuk berdiam diri di masjid, bertafakur, dan beribadah semaksimal mungkin di dalam masjid. Alokasi waktu untuk i’tikaf. Konon di waktu sepuluh hari terakhir inilah, Allah melimpahkan kemuliaan-kemuliaan Ramadan pada hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencari pahala Ramadan.

“Imanan wahtisaban..”
Dua komponen penting puasa yang disinyalir oleh Rasul akan membuat mereka yang melaksanakannya mendapatkan ampunan: iman dengan disertai kalkulasi yang tepat/jitu (ihtisaban). Karena waktu Ramadan biarpun cukup lapang sepanjang 30 hari, tapi bila dikerjakan tanpa perhitungan alokasi waktu yang efektif, tidak akan mencapai target-target amalan yang dianjurkan di bulan mulia ini.

86 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.