Festival Kesederhanaan #20HariMenulisRamadan

Ada yang paradoks di bulan Ramadan, dari tahun ke tahun selalu kejadian. Sebulan penuh sebagian besar penduduk Indonesia tidak makan dan tidak minum 12 jam lebih lamanya. Mestinya konsumsi makanan dan minuman juga berkurang, Demand untuk makanan dan minuman seharusnya berkurang. Tapi yang terjadi nggak, justru di bulan Ramadan ini, demand makanan dan minuman naik secara signifikan. Sementara supply atau pasokan gak bertambah secara berarti, bahkan ada beberapa yang malah berkurang.
Berikut cuplikan berita dari katadata.co.id tentang gambaran kebutuhan pokok menjelang bulan Ramadan:

Selain masalah pasokan, permintaan masyarakat semakin meningkat namun tak dibarengi ketersediaan stok juga dinilai cukup mengkhawatirkan. Selain itu, ketersediaan tenaga kerga pekerja yang kemungkinan besar bakal berkurang karena libur Lebaran juga akan memicu kenaikan ongkos. Sehingga, diperkirakan hal itu akan mendorong kenaikan harga.

Apa yang terjadi?
Ternyata kebutuhan makan dan minum di bulan Ramadan meningkat signifikan. Coba perhatikan di rumah kita sendiri misal, apa yang tersaji buat hidangan buka puasa hingga sahur. Cukup atau bahkan sangat komplit, dengan menu-menu spesial yang di hari-hari di luar Ramadan nggak ada. Di hari biasa di luar Ramadan, sangat jarang dalam satu bulan tiap harinya tersedia kolak, gorengan, es buah, lauk spesial, dan yang lainnya. Tapi makanan-makanan itu tersedia hampir setiap hari di bulan Ramadan. Padahal makanan-makanan itu hanya untuk keperluan konsumsi di malam hari saja, dari waktu buka sampai habis waktu sholat tarawih. Sisanya di waktu sahur, menu makanannya tidak akan seheboh pada waktu berbuka puasa. Belum lagi ada saja setiap hari acara buka puasa bersama di berbagai instansi atau group-group kelompok masyarakat. Semuanya dengan menu spesial, seperti acara traktiran dan ulang tahun di hari-hari biasa.

Bulan Ramadan yang awalnya untuk mengajarkan empati dan kesederhanaan pada kaum papa tak berpunya, merasakan lapar sebagaimana mereka yang sehari-hari kesulitan untuk makan layak, telah menjadi festival perayaan makanan. Ada istilah ‘dendam’ di sini. Karena seharian, selama 12 jam lebih gak makan, maka pada waktu berbukanya mesti dilampiaskan semaksimal mungkin. Pinginnya makan yang enak-enak dan dalam jumlah yang banyak. Sudah pasti ini berpengaruh ke demand makanan, baik secara pribadi maupun masyarakat. Selain konsekuensi ekonomis, berupa lonjakan pengeluaran yang meningkat selama bulan Ramadan, ada konsekuensi lain akibat festivalisasi bulan Ramadan ini, yaitu dampak ke kesehatan. (akan dibahas di seri tulisan ‘Ramadan, Kesempatan untuk Sehat‘.

Kalo kita melihat pada apa yang dilakukan oleh Rasulullah di bulan Ramadan, kita bahkan melihat Ramadan sebagai festival kesederhanaan, bukan sebaliknya. Beliau berbuka, cukup dengan beberapa butir kurma (dengan jumlah yang ganjil) dan minum air putih. Gw gak mendengar ada riwayat dimana beliau dan para sahabat berbuka dengan makanan yang berlimpah ruah seperti apa yang sering kita lihat sekarang ini.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat, jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan kurma, jika tidak ada kurma, beliau minum dengan satu tegukan air.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah).

Festivalisasi bulan Ramadan, walau ada yang bilang banyak dampak positifnya, yaitu membuka pintu rejeki bagi para pedagang makanan berbuka yang menjamur di bulan mulia ini, telah juga membuat beberapa bagian masyarakat yang sebenarnya tak mampu menyediakan makanan enak dan berlebih karena faktor ekonomi, untuk maksa teuteup sewaktu berbuka harus tersedia makanan yang berlimpah dan enak-enak di meja makan mereka.
Yang terjadi kemudian adalah besar pasak daripada tiang.

Bagusnya sih (menurut gw) di bulan mulia ini besar ibadah daripada pengeluaran (ekonomi) 🙂

112 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.