Birrul Walidain (1) #20HariMenulisRamadan

Dulu sewaktu kecil, mungkin sebagian orang tua pingin anaknya merantau ke kota-kota besar untuk mengejar apa yang jadi cita-citanya. Bahkan ada yang mengharuskan merantau ke tempat yang jauh, biar punya pengalaman yang banyak. Tapi begitu anak-anak mereka sudah benar-benar merantau di tempat yang jauh dari kampung halaman orang tua mereka, dan menjadi penduduk tetap kota perantauannya, banyak orang tua atau bahkan hampir semuanya, merasa kangen pingin anak-anaknya berkumpul di sekitar mereka. Apalagi bila kondisi orang tua sudah semakin sepuh dan sudah banyak menurun kesehatannya. Orang tua yang sakit-sakitan butuh perawatan khusus, dimana perawat terbaiknya bukan suster rumah sakit atau dokter spesialis, tapi pendampingan orang-orang terdekat mereka.

Gw beberapa kali mendengar kisah yang yang gak enak, tepatnya tragis, berkaitan dengan orang tua yang sudah sepuh banget, yang harus tinggal sendiri di kampung halamannya, karena anak-anaknya tidak ada satupun yang tinggal mendampingi mereka, melanglang buana tinggal di luar kota bahkan ada yang di luar negeri. Dalam kondisi sakit-sakitan, mereka harus survive sendiri, karena juga tak mungkin mengandalkan pendampingan tetangga selama 24 jam, karena mereka juga punya kesibukan dan kewajiban lain sendiri.

Bulan Februari kemarin, gw dapat cerita dari temen, kalo ada sepasang suami istri yang sudah sepuh banget, yang tinggal sendiri di rumah mereka. Sang istri menderita stroke, dan sudah tak mampu beraktifitas selain berbaring di tempat tidurnya saja. Sementara sang suami, yang merawat istrinya dengan istrinya juga punya masalah kesehatan yang serius, jantung koroner. Anak-anak mereka semuanya tinggal di luar kota, dan konon jarang sekali menghubungi dan menjenguk mereka. Sehingga sampailah suatu ketika, sang suami terkena angin duduk ketika sedang berada di ruang tengah, dan membuatnya meninggal seketika. Tinggallah sang istri yang sudah tak bisa apa-apa lagi, sendirian tapi tak tahu apa yang terjadi pada suaminya. Selama beberapa lama tanpa ada yang merawatnya (memberinya makanan dan obat), sang istrinya pun akhirnya menyusul sang suami berpulang.

Gw yang denger ending cerita temen ini langsung berasa ‘deg!’ dan trenyuh banget. Sampai beberapa lama setelah mereka meninggal tidak ada yang tahu. Jangankan anak-anaknya, tetangganya pun baru tahu setelah para tetangga itu merasa janggal karena beberapa hari sang suami tak juga keluar rumah.

Setelah denger cerita itu gw coba cek di medsos, karena kata temen gw itu kejadian ada beritanya di medsos. Dan bener, gw dapet beritanya di Twitter dan videonya di Youtube. Kejadiannya di Magelang, persis seperti yang diceritain temen gw. :((

Trus kemarin banget, gw dikrimin berita tentang seorang kakek yang ditemukan telah beberapa hari (3 hari) meninggal di dalam rumah. Sang kakek tinggal seorang diri di dalam rumahnya. Anak dan istrinya tinggal jauh di kota Bandung. Berikut penuturan dari tetangganya yang menginisiasi untuk mendobrak rumah sang kakek karena curiga sudah beberapa hari tak menampakkan batang hidungnya:

Dituturkan, korban yang sudah tua sering mengeluh kalau sakit terutama darah tinggi. Tetapi tidak mau ikut anaknya, dengan alasan ingin tetap tinggal di Kudus. “Kemungkinan pas dia sakit tidak ada yang tahu, sehingga terjatuh di lantai sampai meninggal dunia,” imbuhnya.

Anak-anak yang pada masa kecilnya didorong untuk merantau sewaktu lulus sekolah ke luar kota atau bahkan ke luar negeri, setelah pada saat mereka dewasa dan berkeluarga mapan hidup di kota perantauannya menghadapi dilema ketika mendapati kenyataan orang tua mereka di kampung halaman semakin sepuh dan sering sakit-sakitan. Yang biasa jadi pilihan mereka adalah mengajak orang tua mereka untuk tinggal bersama mereka di kota perantauan. Dan kebanyakan orang tua tidak mengiyakan ajakan ini. Karena bagi orang tua, kampung halaman telah jadi semacam tumpah darah mereka. Dan orang tua ingin meninggal di kampung halamannya sendiri, dimana penghulu dan sesepuh mereka juga dimakamkan di situ.

Gw juga menghadapi hal yang sama, dalam hal ini. Tapi gak sampe, orang tua harus hidup sendiri sebatang kara di kampung halaman. Beruntung, gw punya adik yang akhirnya memilih untuk hidup dan bekerja di kampung halaman, setelah sebelumnya merantau beberapa tahun di Jakarta, menemani Ibuk di rumah.

(bersambung)

172 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.