Birrul Walidain (2) #20HariMenulisRamadan

Ditemani oleh adik yang kini bekerja di sebuah instansi perusahaan daerah di kampung halaman, awalnya ibuk terlihat cukup menikmati hari tuanya mengurus rumah dan merawat beberapa tanaman hias yang beberapa di antaranya laku dijual. Mengingat usianya yang hampir kepala delapan, gw dan kakak-kakak yang lain sempet bilang kalo ibuk jangan terlalu capek dalam beraktifitas, selain masak makanan, ibuk kadang masih suka sibuk nyiram tanaman di pekarangan samping dan menyapu halaman. Kesibukan ibuk agak berkurang setelah keponakan gw juga menemani ibuk di kampung halaman.

Di satu kesempatan, gw juga bilang ke ibuk untuk mulai jaga jenis makanan yang dikonsumsi. Karena semakin bertambahnya usia, semakin berkurang kemampuan metabolisme tubuh. Apalagi ibuk sudah masuk kategori sepuh. Khawatir kalo ibuk gak bisa jaga makanan, bakal ada efek kesehatan yang bakal mengganggu.

Di kemudian hari, kekhawatiran gw terjadi. Gegara salah makan apa gitu, buah naga atau makanan yang lain, ibuk langsung bermasalah sama pencernaannya, mencret-mencret dan sama muntah-muntah kalo gak salah. Sampe seharian, sehingga bikin ibuk lemas. Akhirnya dibawa ke dokter sama adik. Pas ini gw hubungin adik, masih berharap kalo ibuk akan segera sembuh, anggeplah cuma sakit perut biasa karena salah makan. Tapi ternyata nggak, ibuk menurut rekomen dokter harus dirawat di rumah sakit. Dirawat selama hampir seminggu.

Gw pulkam jenguk ibuk sampek pas hari terakhir ibu di rumah sakit. Setelah itu ibuk diijinkan pulang, atau tepatnya dilanjutkan dengan rawat jalan. Perawatan mandiri di rumah, dengan catatan beberapa waktu kemudian harus cek lagi perkembangan kesehatannya.

Mulai dari sini kondisi kesehatan ibuk gak kayak sebelumnya. Sering lemas dan tidak bergairah. Menurut kakak, yang lumayan lama mendampingi ibuk setelah keluar dari rumah sakit, ibuk mesti sering diajak ngobrol, makannya dilayani dan ditemani. Karena unsur pikiran juga sangat berpengaruh pada vitalitas orang sepuh kayak ibuk. Hal inilah yang gak didapat selama ibuk ditemani oleh adik di rumah, yang tiap hari bekerja dari pagi hingga senja hari.

Gw dan kakak pun sepakat untuk sering-sering jenguk ibuk di kampung. Awal bulan puasa kemarin, kakak perempuan yang datang menjenguk selama beberapa hari. Sebenarnya waktu itu juga gw mau jenguk juga, sekaligus ngajak kakak sulung, biar bisa kumpul semua anak-anak ibuk di kampung, sebelum ramadan. Gak kesampaian tapi. Akhirnya gw baru bisa jenguk ibu di hari ke-2 dan 3 Ramadan (hari Jumat malam gw berangkat dari Jakarta)

Di kampung, selain karena lagi puasa, gw gak kemana-mana, secara kalo jalan-jalan juga jalan-jalan seputar kuliner. Di rumah aja menemani ibuk, menyiapkan makanan beliau, dan ngobrol yang ringan. Yang bikin seneng, pas gw siapin makanan, ibuk makannya lahap sekali, sampai nambah. Tadinya beliau cuma mau makan nasi lembek sama sayur aja, tapi gw bersikeras untuk menambahkan daging semur yang gw halusin. Biar ada unsur proteinnya kata gw, yang itu lumayan buat nambah tenaga biar gak lemes.

Di situ gw ngerasa seneng banget liat perkembangan ibuk. Yang sayangnya, gw gak bisa berlama-lama di situ. Hari Minggu malam, gw mesti balik lagi ke Jakarta, meninggalkan ibuk dan adik di kampung halaman.

Sebagai upaya birrul walidain, gw bertekat untuk lebih sering-sering pulkam jenguk dan menemani ibuk di kampung. Ibuk, di usia senjanya memang lebih butuh untuk sering ditemani dan diajak ngobrol, terutama oleh anak-anaknya.

Ibuk, doaku selalu teriring untukmu..ย ๐Ÿ™๐Ÿ™

99 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.