Mengaudit Bangunan (3) #20HariMenulisRamadan

Mengaudit bangunan juga bisa dikarenakan tanpa ada masalah yang mengganggu sebelumnya. Hanya melakukan pengecekan saja, yang berangkat dari kesadaran bahwa tiap-tiap bangunan punya batas waktu tertentu di tiap elemennya, yang nantinya bisa menjadi catatan untuk dilakukan upaya perawatan lebih lanjut dan intensif.

Untuk jenis audit ini, gw memperhatikan semua elemen bangunan satu persatu, kemudian mengomparasi dengan kondisi ideal yang seharusnya. Dari sini selain nanti menghasilkan beberapa rekomendasi yang sifatnya tidak mendesak, karena bukan menyangkit masalah besar bila tidak dikerjakan, juga terkadang berhasil menemukan sebuah masalah sepele yang bila dibiarkan akan menjadi bom waktu bila tidak segera diambil langkah-langkah penanganan masalah dengan segera.

Di pekerjaan audit bangunan yang terakhir gw kerjakan, ada beberapa indikasi yang dalam hal ini orang awam (di luar orang yang berkecimpung di bidang bangunan) jarang memperhatikannya sebagai masalah, tapi itu justru nantinya akan menjadi masalah di kemudian hari bila diabaikan.
Satu indikasi itu adalah adanya gumpalan tanah yang menempel di dinding bangunan, dengan alur memanjang ke atas. Ini adalah gumpalan tanah hasil kerja rayap yang sedang merayap menuju ke bagian atas bangunan. Pengurus sekolah melihatnya sebagai kotoran tanah biasa, yang mungkin dibawa oleh kecoak atau apa. Tak menganggapnya sebagai indikasi bahwa koloni rayap telah sedikit demi sedikit ‘menguasai’ bangunan.
Setelah gw tanyakan adakah masalah yang berkaitan dengan pintu dan jendela, pengurus bangunan sekolah membenarkan. Daun pintu dan jendela di beberapa kelas dan ruangan terasa seret dan susah untuk dibuka. Bahkan ada kejadian yang sebelumnya tidak disampaikan berkaitan dengan masalah pintu dan jendela yang terindikasi rayap ini, yaitu kejadian daun jendela berupa kaca di lantai dua, jatuh ke bawah dikarenakan kayu frame penjepitnya sudah lapuk dimakan rayap.

Yang paling parah adalah ternyata rayap ini sudah menyerang hingga ke bagian paling atas bangunan, yaitu rangka atap!
Sejak melihat ada indikasi jalur rayap di dinding, gw udah curiga kalo pergerakan rayap mungkin sudah sampai ke bagian atap. Ini karena bangunan yang sedang gw audit merupakan bangunan berusia cukup lama yang masih menggunakan rangka atap kuda-kuda kayu.
Dan benar, setelah gw melihat secara langsung di bagian rangka atap, rayap sudah mulai menggerogoti kayu kuda-kuda, walau masih dalam taraf awal. Rayap hanya menggerogoti di beberapa bagian kuda-kuda tapi akan berakibat sangat fatal bila dibiarkan tanpa penanganan yang serius.

Rayap menggerogoti di bagian sambungan kayu kuda-kuda, yang membuat rangka atap di bagian sisi yang menempel dengan kaso dan reng tempat genteng bertumpu, melengkung dan membuat atap bangunan terlihat dari luar seperti menggelembung.

**

Bagi gw, audit bangunan secara sederhana bisa dilakukan oleh si pemilik bangunan sendiri, bila yang bersangkutan punya kesadaran dan sedikit pengetahuan tentang kondisi ideal bangunan dan juga pengetahuan ihwal perawatan bangunan. Dalam kaca mata awam, beberapa ketidakberesan di bangunan bisa terlihat, tapi tak mampu menganalisis lebih lanjut. Contohnya bila di beberapa bagian dinding bangunan, pemilik bangunan melihat ada banyak bagian yang retak. Tentu secara awam, bisa disimpulkan secara sementara ada yang tidak beres dengan kondisi dindingnya. Tapi kemampuan analisis, keretakan itu karena apa dan mengapa terjadi, kaca mata orang awam tak mampu menjelaskannya lebih lanjut.

Yang fatal, bila dalam tahap ini, pemilik bangunan kemudian mengambil langkah terburu-buru memanggil tukang untuk mengatasi masalah yang terjadi. Di sini yang harus dipahami, tukang bangunan bukanlah seorang yang mempunyai kapasitas untuk melakukan analisis bangunan. Pertama dikarenakan latar belakang pendidikan mereka yang tak mendukung. Kedua, mereka tak pernah bekerja dalam wilayah perencanaan yang membutuhkan analisis yang panjang dan bertele-tele sebelum memutuskan jenis bahan dan metode kerja yang akan dikerjakan. Seorang tukang bangunan hanyalah pelaksana dari rencana dan gambar kerja yang sudah final (jadi) dan bahkan masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut dalam pelaksanaan kerjanya.

Analisis yang tepat akan menentukan rekomendasi penanganan yang tepat. Analisis yang tepat membutuhkan tools atau perangkat penguji analisis. Seperti dalam tulisan yang lalu, pemilik bangunan merasakan adanya ketidakberesan dalam struktur bangunannya, tapi di bagian mana yang tidak beres, pemilik bangunan tidak mempunyai perangkat untuk menganalisanya. Yang memiliki perangkat untuk itu (analisis) adalah auditor bangunan yang kemudian menggunakan jasa lab beton untuk menguji kualitas beton dari bangunannya.

Siapapun yang memiliki rumah tinggal yang ditempati sehari-hari di sini berlaku sebagai pemilik bangunan, yang walau dalam ke-awam-annya dalam hal bangunan, mesti punya sense untuk bisa juga mendeteksi secara awam bilamana terjadi hal-hal yang tidak beres berkaitan dengan bangunan rumah tinggalnya. Ia harus, walau secara awam, juga menjadi auditor bangunan tahap awal untuk rumah tinggalnya.

Dengan begitu, walau kemudian ia harus memanggil auditor bangunan profesional untuk melakukan analisis lebih lanjut, ia telah sedikit banyak mengurangi resiko bangunan rumah tinggalnya mengalami masalah yang sangat serius di kemudian hari.

84 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.