Paradoks Parameter Kebahagiaan #20HariMenulisRamadan

2 peristiwa beruntun tentang kematian pesohor dengan penyebab suicide meramaikan media massa dan media sosial dalam waktu 2 pekan. 2 pesohor itu adalah Kate Spade, perancang fashion tas kenamaan, dan Anthony Bourdain, chef kenamaan yang sering tur kuliner keliling dunia.

Kedua pesohor itu tak sedang terpuruk karir dan popularitasnya. Bahkan mungkin sedang dalam posisi puncak, menikmati kesuksesannya. Bila di media sosial sering kita dengar ungkapan nyinyir bagi mereka yang berpikir pendek dan sering mencela orang lain disebut sebagai orang yang โ€˜kurang piknikโ€™, yang artinya mereka kurang refreshing dan kurang bahagia, maka Anthony Bourdain yang memutuskan untuk menggantung diri adalah orang yang dalam kesehariannya adalah selalu piknik. Bepergian ke berbagai belahan dunia, sembari melakukan wisata kuliner, ia berbagi pengalaman tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kuliner yang sedang ia jelajahi, menggali sisi gastronominya.

Bila kebahagiaan berkenaan dengan menjelajahi hal-hal baru, kemudian dari situ tergali kreatifitas lalu diaplikasikan dalam sebuah produk dengan desain yang menarik, maka Kate Spade sebenarnya adalah orang yang sehari-hari berada di dalamnya. Desain tas-tas fashionnya demikian berkelas dan digemari oleh para sosialita dan selebriti dunia.

Rupanya ada yang tidak linear dengan parameter-parameter kebahagiaan yang selama ini kita percayai. Kurang bahagia pertanda kurang piknik. Berpikir pendek pertanda kurang kreatif dan jumud. Wisata kuliner dengan mencicipi berbagai khas masakan di penjuru dunia pertanda hormon endorphin (kebahagiaan dan rasa senang) kita sedang bekerja. Begitu seterusnya. Semua parameter tadi menjadi tidak valid dalam kasus kematian Kate Spade dan Anthony Bourdain. Dalam parameter-parameter yang sering kita lihat sebagai indikasi kebahagiaan seseorang, yang mana dimiliki oleh kedua pesohor tadi, tetap membuat mereka tetap terhimpit depresi sedemikian rupa, sehingga mereka tak mampu melepaskan diri darinya, dan memutuskan untuk mengakhiri depresi tersebut dengan mengakhiri hidupnya.

Kebahagiaan seseorang dalam hal ini tak dapat diukur dari indikasi-indikasi lahiriah yang bisa dilihat oleh orang lain, dan kemudian dijadikan sebagai parameter kebahagiaan. Seperti orang yang kaya sudah pasti bahagia. Orang yang punya pasangan hidup yang cantik/ganteng tentu senang dan bahagia hidupnya. Orang yang selalu makan enak maka hormon endorphinnya (hormon kebahagiaan) terjamin dan termanjakan.

Kebahagiaan, sebagaimana keikhlasan, sering disederhanakan dengan indikasi paramater-parameter lahiriah yang sempit. Rasulullah pernah menginformasikan pada para sahabat tentang sosok yang karena keikhlasannya, masuk ke dalam golongan penghuni surga, yang penampilannya sangat jauh dari apa yang mereka bayangkan. Para sahabat baru percaya setelah tiga hari berturut-turut Rasulullah selalu menunjuk pada orang yang sama, yang penampilannya biasa-biasa saja itu. Ia bukan sosok yang bila sedang sholat kelihatan sangat khusyuk. Bukan sosok yang dalam pergaulannya sering memberikan petuah-petuah tentang keikhlasan, sehingga orang kemudian memandangnya sebagai ahli (ilmu) ikhlas. Saking penasarannya, salah seorang sahabat sampai mengikuti keseharian dari sosok yang disebut Rasulullah sebagai penghuni surga karena keikhlasannya itu. Sahabat itu ingin tahu amalan apa, atau parameter fisik apa yang bisa ia lihat, sehingga sosok tersebut dikategorikan sebagai penghuni surga. Setelah tiga hari menginap di rumah sosok penghuni surga itu, si sahabat tak juga bisa melihat parameter fisik (yang terlihat) yang bisa ia kategorikan sebagai amalan atau indikasi penghuni surga. Si sahabat menyerah, lalu memberanikan diri bertanya, amalan apa yang membuatnya dikategorikan sebagai penghuni surga oleh Rasulullah. Begini kurang lebih penjelasan yang diberikan oleh sosok penghuni surga itu, โ€œAku tak pernah membenci siapapun, juga iri terhadap apapun yang dipunyai oleh orang lain. Bila ada orang lain yang menyakitiku, aku telah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Dan setiap hari, terutama sebelum aku tidur, aku pastikan aku mengikhlaskan segala hal yang berkaitan dengan diriku dan apapun yang berkaitan dengan hubunganku dengan orang lain.โ€

Si sahabat terperanjat dengan penjelasan sosok penghuni surga itu. Penjelasan yang membuat paramater-parameter keihlasan yang ia yakini selama ini menjadi tidak valid sama sekali. Apa yang dilakukan oleh penghuni surga itu kelihatannya sederhana tapi sungguh luar biasa. Tak bisa dilihat secara kasat mata, tapi mempunyai dampak nilai (keikhlasan dan kebahagiaan) yang sangat besar.

Bila memang dalam kehidupan ini yang paling penting adalah mencapai kebahagiaan, maka penting untuk merumuskan kebahagiaan seperti apa yang hendak dicapai. Tentu kebahagiaan yang sejati, yang tidak dibungkus oleh parameter-parameter fisik dan semu yang sering mengecoh.

135 total views, 1 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.