Lebaran, Ibuk dan Penat yang Tersisa

Lebaran tahun ini gw jalani sama kayak di tahun 2016, nyetir sendiri kendaraan mudik sampai kampung halaman. Waktunya juga mirip, ngambil timing sehabis 1 Syawal. Berharap seperti tahun 2016, lalu lintas di sepanjang jalur mudik sudah mendingan, tapi ternyata prediksi gw salah. Sama kayak prediksi para fans presiden saat ini yang sebelumnya sudah keburu bersorak, berkat ‘tol Jokowi’ lebaran tahun ini, arus mudik lancar jaya, dan diekspose habis-habisan di media sosial, padahal belum lagi memasuki puncak arus mudik. Dalam hitungan dua hari, sorak sorai itu berubah jadi senyap, begitu cerita pemudik yang mengalami durasi perjalanan dua kali lipat dari tahun sebelumnya di jalan ‘tol Jokowi’, beredar luas di beberapa situs berita online.

Gw berangkat dari rumah pukul 8.15 terus langsung memasuki tol Simatupang dari Jalan Veteran Bintaro. Saat di area pintu keluar Jatiasih, lalu lintas kendaraan sudah stuck dengan kondisi padat merayap. Sampai pukul 13.00 mobil gw masih berada di area Cikampek, dan akhirnya gw putuskan untuk istirahat di Km 57. Tapi masuk ke rest area pun, mobil gw masih harus antri dengan laju padat tersendat. Kondisi laju yang sama ketika gw harus antri wudhu sholat dan makan di resto ayam gorang crispy.

Yang menurut gw kondisinya lebih baik dari 2 tahun sebelumnya sewaktu gw bawa kendaraan sendiri untuk mudik adalah stamina tubuh gw, dan motivasi gw buat pulkam.
(1) 2 tahun yang lalu kondisi tubuh masih over-weight, dengan efek-efek samping kayak gampang ngantuk, cepat lelah, dan sering pusing, yang buat gw waktu itu harus sering mampir ke rest area untuk tidur sejenak dan minum obat sakit kepala. Sekarang kondisi tubuh gw udah jauh beda. Selain bobot tubuh yang sudah jauh berkurang, efek-efek samping kayak gampang ngantuk, cepat lelah dan sering pusing udah gak gw rasain lagi. Pas berangkat, sesuai dengan pola makan food combining, gw gak makan nasi atau makan cemilan-cemilan. Cuma minum air putih aja. Di jalan buat cemilan, gw bawa bekal buah. Lima jam nyetir sampe di rest area, gw masih posisi ON dan belum merasa ngantuk sedikitpun. Delapan jam nyetir setelah dari rest area, gw baru berhenti lagi untuk makan malem di daerah Demak.
(2) Tahun ini motivasi gw sebenernya gak jauh beda dengan dua tahun atau satu tahun sebelumnya, mengunjungi ibuk. Tapi tahun ini kondisi kesehatan ibuk jauh menurun dibanding sebelumnya. Ada kekhawatiran atau lebih tepatnya ketakutan yang sangat, tahun ini bakal jadi lebaran terakhir gw masih bisa bertemu dengan ibuk. Kekhawatiran yang menular dari kakak dan adik gw yang selama ini terus memantau kondisi kesehatan ibuk. Selama kepadatan lalu lintas menghadang di depan mata, yang biasanya jadi sebab gw jadi gondok dan kemudian kesel sendiri, tahun ini semua itu gak ada apa-apanya dibanding kekhawatiran gw tentang ibuk yang demikian menghantui. Kekhawatiran yang bikin gw tabah ngadepin padat tersendatnya tumpukan kendaraan di depan.

Kondisi padat merayap atau kadang tersendat hanya sampai di tol Cikampek saja. Selepas itu, memasuki tol Cipali, jalanan kembali lancar, cukup lancar. Sampai kemudian gw sampe di daerah Brexit, yang 2 tahun sebelumnya gw harus keluar, untuk menyusuri jalanan biasa (Brebes – Tegal, Pemalang – Pekalongan – Batang – Kendal) sampai ke Semarang. Sekarang gw bisa lanjut sampai ke tol dalam kota Semarang, yang keluar-keluar di daerah Kaligawe, daerah Semarang yang berbatasan dengan Demak. Namanya tol fungsional Batang – Semarang. Mungkin sesuai dengan namanya ‘fungsional’, tol ini belum betul-betul jadi, baru setengah jadi, tapi dipaksakan untuk difungsikan, agar bisa menampung pemudik yang menuju ke arah Semarang dari Brexit.

Ada yang bilang Tol Fungsional ini dipaksakan dioperasikan untuk keperluan citra Jokowi di mata pemudik. Apalagi di beberapa titik Tol Cipali memang ada beberapa dipasang spanduk ‘Terima kasih Jokowi’. Mungkin iya, mungkin juga nggak. Aku ngelihatnya gak dari sisi itu sih. Lebih ke syarat minimal keamanan kelengkapan jalan yang layak dilalui oleh pengguna jalan:

  • Perbedaan level/ketinggian jalan yang cukup tajam/runcing di banyak titik, karena baru dilapis beton, tapi belum diberikan lapisan layer berikutnya untuk finsihing, sehingga sebabkan roda kendaraan yang melaju dengan kecepatan sedang pun (tidak ngebut) akan membentur ujung lapisan beton yang cukup tajam.
  • Tidak ada penerangan lampu jalan. Jalanan gelap hanya andalkan tempelan ‘mata kucing’ di pembatas tepi jalan. Makin memperparah kondisi jalan yang kasar finsihing perbedaan level lapisan betonnya.
  • Pembatas jalan tol bagian tepi di beberapa titik menggunakan bahan yang tidak kokoh, padahal berbatasan dengan jurang. Makin memperbesar resiko kendaraan yang sudah berjalan di area yang gelap, dengan kondisi jalan yang belum sempurna, bisa menabrak pembatas ini lalu jatuh ke dalam jurang.

Pukul 10 malam, kendaraan gw sudah sampai di daerah Demak. Total 12 jam gw nyetir. Sejauh itu, badan belum berasa capek, dan ada bara semangat untuk segera sampai di rumah ibuk. Hanya butuh waktu satu jam dari Demak untuk sampai ke rumah Ibuk. Begitu sampai, Ibuk sudah tidur. Kakakku yang di Serang, dan Kakak sepupu yang tinggal di Nganjuk, sudah berkumpul. Kami memang janjian untuk berkumpul di lebaran tahun ini untuk menemani Ibuk di waktu lebaran.

Esok paginya, kami mengerubuti Ibuk di kamarnya. Tidak ada rona ceria di wajah Ibuk melihat kami semua berkumpul menjenguknya. Bahkan pandangan matanya kosong, dan memancarkan kemurungan. Ibuk terlihat sangat berbeda dengan sebelum beliau sakit dan dirawat di RS beberapa waktu lalu. Beliau selalu menggumamkan tentang kesempatan yang tertutup untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Raut wajah Ibuk menampakkan beban pikiran yang berat.

Gak tau tiba-tiba gw cukup banyak ngomong ke Ibuk menanggapi gumaman kepesimisan beliau. Bahwa kesempatan itu masih terbuka lebar selama hayat masih dikandung badan. Apalagi sebenarnya Ibuk masih sehat bugar, hanya beban pikiranlah yang membuat Ibuk jadi lemas dan tak berdaya. Gw terus menyemangati Ibuk, tiap hari, selama gw di sana.

Apa daya, gw cuma hanya bisa 4 hari berada di kampung. Di hari ke-6 lebaran gw musti balik lagi ke Jakarta. Berkutat di kepadatan puncak lalu lintas arus balik lebaran. Sabar meniti jalanan sepanjang jalanan Tol Pejagan, Palimanan dan Cipali yang padat merayap dan tersendat. Di kilometer seratus sekian Tol Cipali, contra flow mulai diberlakukan untuk memperlancar kepadatan arus balik. Rekor contra flow terpanjang yang diterapkan, semua ruas jalan diarahkan ke arah Jakarta, hingga Tol Cawang.

Kepenatan yang sangat baru gw rasakan sewaktu sampe di Jakarta. Ditambah pikiran yang menggelayut, terus memikirkan kondisi Ibuk.

Ibuk, doaku selalu terpanjatkan untukmu.

104 total views, 4 views today

About the author

sketsagram

View all posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.